Skip to main content

Catatan Ngaji Gus Baha | Syawalan UGM dan KAGAMA 1442H

 

Perilaku Sosial
Sebagai penghormatan saya kepada UGM juga alumninya, saya akan utarakan referensi yang valid, Ada aturan dalam Ilmu Hadits, jadi diantara aturanya itu sebuah riwayat itu menjadi kuat, meskipun asal usulnya riwayat yang lemah, kalau menjadi perilaku sosial, karena perilaku sosial itu menunjukkan didikan, atau pendidikan, atau tarbiyah, atau dari leluhur sampai kita. Misalnya saling memaafkan, itu persisnya tentang hadits tentang saling memaafkan mungkin banyak yang masalah ketika teksnya ada yang sampai menyebut salaman. Debat hukumnya salaman kayak apa, apalagi musim sekarang. Orang saling curiga, itu gak salaman. Tapi apapun itu, perdebatan di dalam persisnya teks, jika diperkuat oleh perilaku sosial, maka hadits itu menguat menjadi baik. 


Kembali Menghamba
Saya cerita tentang tema syawalan, sebagai amanat yang dipesankan disini, syawalan di Indonesia itu identik dengan minta maaf. Id itu dari kosa kata audun, maknane kembali. Setelah kita puasa 1 bulan, kita insyaalloh berkatepe surga lagi, jadi kita tahu, dulu nabi adam itu di surga. Beberapa anaknya juga di surga. Sehingga KTP kita itu sebenarnya adalah KTP surga, alamat tetap kita itu surga. Karena kita agak kacau gitu, agak bedigasan (kata orang jawa), terus status itu agak2 hilang. Semoga gak hilang betul, nah dengan romadhon itu status itu dikembalikan, makanya banyak ulama mengatakan, al 'id minal 'audi, kita kembali dari yang dulu kita penduduk surga, dan dengan ibadah romadhon yang diterima, itu menjadi status penduduk surga lagi. Disebut minal a'idin, kita kembali ke fitroh, kembali lagi ke status kehambaan yang benar, sehingga kita layak menjadi ahli surga. 


Menghamba
Kita mulai dari kehambaan, memang untuk menjadi status surga itu, kita tidak boleh menandingi Tuhan, menandingi Kekuasaan Alloh. Sehingga syarat kita masuk surga itu harus Abdulloh, kita bertatus hambanya Alloh. Disebut fadkhuli fi 'ibadi. Masuklah dulu sebagai hambaku, jadi kita bertatus sebagai hambanya. Baru setelah layak menjadi hambanya baru wadkhuli...jannati. Baru berstatus layak menjadi ahli surga. Jadi status kehambaan ini, kita mantapkan dulu. Jangan ada status lain, kita di depan Alloh, kecuali status kehambaan. Saya punya analogi, dan itu saya ulang2, karena diantara ciri quran itu, mengulang2 yang harus menjadi ciri pegangan. Saya ulang lagi, diantara ciri quran itu, mengulang-ulang yang menjadi pegangan. Jika kita belajar ilmu fisika atau ilmu apa saja, maka kita akan bicara materi sesuai statusnya. Jadi kita harus latihan untuk Iman kepada Alloh, Saya tanpa mengurangi rasa hormat, saya memberi contoh begini, ini jam, materinya dari besi. Ini selembar kertas, materinya ya kertas. Tentu secara fisik orang akan bilang jam itu akan lebih kuat daripada kertas. Dan itu pasti dibenarkan, dari segi materi. Tapi kalau anda beragama, anda tahu pengendali alam ini adalah Alloh Swt, maka kamu akan bilang, terserah gus baha. Bisa saja, jam ini saya punya niat, akan saya hancurkan. Kertas yang lemah ini saya simpan. Sehingga jam ini, lima menit lagi saya hancurkan, sehingga bener2 rusak. Sementara kertas ini saya simpan, sampai bertahun2 awet. 


Pengendali
Nah kira2 seperti itulah ilmu manusia, sesuatu yang kita sangka kuat, ternyata Alloh punya rencana menghancurkan itu, dan yang kita sangka lemah, ternyata Alloh punya rencana untuk mengabadikan itu. Nah disini pentingnya iman 

Lahu maqolidus samaawati wal ardho.... 

Alloh yang mengendalikan semua. Jadi jangan mentang2 kita punya ilmu, bahwa materi besi ini lebih kuat ketimbang kertas, lalu kita pastikan bahwa besi lebih kuat daripada kertas. Kita sisakan satu keyakinan, terserah Alloh, terserah Pengendalinya. Nah itu agama, bilang terserah Pengendalinya itu Agama. Ya tadi mungkin ada problem signal, saya ulangi lagi. Ibarat, saya ini megang jam, jam tangan, yang materinya dari besi. Ini kertas, yang materinya lemah. Tentu kita akan bilang bahwa, jam atau besi, lebih kuat ketimbang apa? kertas. Tapi akhirnya salah, anda harusnya ngomong bahwa terserah pengendalinya. Bisa saja saya menghancurkan besi ini, sehingga 5 menit lagi hancur. Dan saya ingin mengabadikan kertas ini, saya simpan di tempat yang aman. Nah agama itu bukan anti ilmu, sehingga dalam agama ini boleh kamu mengatakan besi ini lebih kuat ketimbang kertas, tapi harus kamu tambahi, dari segi materi. Tapi kalau dari segi Pengendalinya, maka kita jawab terserah Alloh Swt. Lah disini pentingnya beragama. 

Jadi mars kayak apa kuatnya, bumi gunung kayak apa kuatnya, ternyata gunung yang kita kuat, nyimpang yang namanya magma, menyimpan potensi meledak. Yang gunung kecil, yang kelihatan dari Pasir kecil, ternyata gak nyimpan magma, jadi gak direncanakan untuk diledakkan. Nah Agama itu seperti itu, yang disebut di Surat Yasin, misalnya Alloh itu siapa? 

Biyadihi malakutu kulli syai-in wa ilaihi turja'un. 

Yang dalam kendaliNya, semua yang ada di alam raya ini. Sehingga dikehidupan nyata juga sama, ada orang yang nekuni ilmu ekonomi, tapi miskinya MasyaAlloh. Ada yang gobloknya masyaalloh tapi kaya. Ada kyai yang punya doa banyak, hidupnya biasa. Ada yang gak punya doa, Kaya. Itu saya pernah baca di sebuah hadits Qudsi, ada riwayat begini. Nabi Musa ketemu Alloh, ditanya


Rizqi
Li maadza, kenapa saya memberi rizqi orang yang bodoh. Ahmaq itu orang yang bodoh sekali. Tak ciptakan dia jadi orang kaya. Dan yang pinter Ekonomi, tak ciptakaan dari Orang Miskin. Kenapa ya Alloh, supaya dia tahu, yang mengendalikan rizqi itu saya, bukan ilmunya dia. Jadi banyak orang, misalnya kita yang pinter, dipekerjakan orang yang gak pinter. Jadi kira2 agama itu seperti itu. Sehingga dalam kita beragama itu yang paling ditekankan itu tawadhu. Tawadhu itu, merasa sopan, atau memang sopan betul. Kalau dalam Ihya disebut sekiranya anda tidak bisa tawadhu secara rasa, tawadhu lah secara ilmu. Karena ilmu itu akan abadi. 


Tawadhu secara Ilmu
Saya beri contoh begini, saya ini misalnya kyai di kampung saya. Saya mungkin bisa merasa hebat, karena tokoh disitu. Tapi pasti... sebelum ada saya, yang bernama Baha ini, agama sudah jalan. Dan di daerah lain yang gak kenal saya, agama juga sudah jalan. Betapa gak pentingya saya di kawasan2 yang gak butuh saya. Atau di daerah yang sebelum ada saya. Dengan ilmu seperti itu orang pasti tawadhu, karena dia tahu, daerah yang gak ada saya ya ternyata ada masjid, ada agama. Periode yang sebelum ada saya, juga agama jalan. Sehingga kita gak kumoluhur, wah kalau gak ada saya agama gak jalan. Jaman walisongo gak ada saya, agama ya jalan. Ekonomi juga gitu, kalau anda pakar Ekonomi yang menyejahterakan rakyat, tawadhu itu kalau gak bisa dengan rasa, dengan ilmu. Jaman gak ada kamu, banyak orang kaya. Jaman orang banyak gak kenal kamu, juga kaya. Banyak periode yang tidak ada anda itu juga kaya. Jadi anda ini gak siapa2. 

Makanya saya pernah didatangi seorang Professor, ini kisah nyata. Gus, sebenarnya saya dengan bapak saya pinter mana? bapak saya gak tamat SD, tapi saya bisa jadi Professor, Saya ini professor, anak saya ini bisa naik kelas saja, senengnya bukan main. Masa orang bodo bisa menciptakan orang pinter, masak orang pinter kesulitan menciptakan orang pinter lagi? Nah kalau kita gak bisa tawadhu secara rasa, tawadhu lah secara ilmu. Ikhlas juga gitu, saya sering ngajarkan ikhlas di beberapa kesempatan ngaji. Kalau anda gak bisa ikhlas secara rasa, ikhlaslah secara ilmu, pasti bisa, bukan mungkin bisa.. tapi pasti bisa. Secara ilmu, makanya di Quran disebutkan 

Fa'lam annahu laa ilaaha illalloh

Fa'lam itu dari kata ilmu

Saya beri contoh, saya dari kecil sampai mulai sekarang, saya sekarang sekitar umur 50 tahun, mulai kecil sampai sekarang ya bilang kalau kertas ini putih. Itu ya gak ada yang gaji, ya gak ada yang bayar, tapi saya selalu bilang kertas ini putih. Yang hitam ya saya katakan hitam, yang merah ya saya katakan merah. Kenapa? karena itu fakta, saya ulang lagi, karena itu fakta. Sehingga saya untuk mengatakan putih gak perlu ada yang bayar. Sehingga ketika kita latihan sholat, latihan ibadah dan mengakui Alloh sebagai Tuhan kita, kita akan malu, loh faktanya Alloh itu kan Tuhan, loh mengatakan fakta kok minta upah ini gimana? Kita mengatakan Alloh itu Tuhan itu sama dengan mengatakan kertas ini putih, sama2 itu fakta. Saya juga saya mengatakan Pak Jokowi itu Presiden kami, itu kan fakta. Masak nunggu, kalau dikasih BLT ya saya katakan Presiden, kalau gak ya gak. Kan ribet jadinya? 

Misalnya Pak Panut Rektor UGM, mbok saya gak digaji disana, gak dibayar disana ya bilang kalau beliau itu Rektor UGM. Pak Ganjar Gubernur Jawa Tengah, mbok saya dikenal apa gak, beliau tetep Gubernur. Lama sekali, kita mengatakan fakta itu ikhlas. Ikhlas itu artinya gak minta apa2. Karena kita ingin ngomong sesuai fakta. Nah Alloh Tuhan itu fakta, nah kenapa untuk mengatakan Alloh Tuhan nunggu.... Baha, saya ini Tuhan kamu, Ya nunggu dulu Gusti, kalau engkau masukkan kami ke Surga, Engkau Tuhan. Kalau gak ya gak jadi, ya gak bisa seperti itu, Alloh ya tetep Tuhan. 



Ikhlas Secara Ilmu
Nah kalau anda gak bisa ikhlas secara rasa, ikhlaslah secara ilmu. Ilmu ya tadi, kita akan selalu bilang yang putih itu putih, yang hitam itu hitam. Makanya ini pentingnya ilmu, tawadhu juga gitu, kalau anda ditakdir orang yang Ge-R yang gede rumongso, ditakdir orang yang kumoluhur secara rasa, bisa dilawan secara ilmu. Ada periode diaman sebelum kita yang kaya juga banyak, yang dapat hidayah juga banyak, yang terpelajar ya banyak. Ada daerah yang gak kenal kita, ternyata sistem pendidikan disitu Jalan, ya sistem sosial baik. Betapa gak pentingnya kita. Ini nanti memaksa kita, atau melatih kita untuk Tawadhu. Nah dari hikmah ilmu itu, kemudian kita minta maaf sama orang lain itu mudah. Karena kita sadar bahwa adanya kita ini problem. Saya sering digojlok orang2 kaya, orang kaya itu ya kadang agak kurang ajar tapi gak bisa dibantah. Pernah tanya saya gini, gus... saya ini punya mobil mahal, harganya 2 Milyar, kayaknya yang berhak pakai jalan, saya. Kok bisa? bayarnya pajak saya mahal. Sehingg kayaknya paling pantes saya. Yang naik onthel itu kan gak bayar pajak. Harusnya gak boleh pakai jalan. Terus saya bilang, mbah2nya yang naik onthel itu pejuang, bapak kamu gak, kamu gak warisnya maksudnya gitu. Artinya teori dalam kitab hikam, kitab hikam itu kitab tasawuf dalam pesantren. Itu kebaikan saja disoal. Misalnya kita gini, kita ini bangga sebagai urip yang tertib, tertib di kantor, di tempat2 pekerjaan. Coba kalau itu terjadi, kalau ada kecelakaan itu gak ada yang nolong langsung. 

SAR paling efektif, penolong paling efektif ya orang2 nganggur. Orang2 yang dijalan2 kalau ada kecelakaan langsung nolong. Itu Nanti ambulan2 itu yang kedua ketiga, yang nolong pertama ya orang yang nganggur2 di jalan. Makanya ketika sahabat tanya, Ya Rosululloh, kalau engkau melarang kita jagongan di jalan, ya kita gak bisa. Ya silahkan saja, tapi hak kamu dijalan itu datangkan, apa itu? ya kamu bisa amar ma'ruf nahi munkar. Coba kalau di terminal2 itu ditempat publik banyak orang yang sholeh, itu copet ya sungkan, yang mau njambret ya sungkan. Karena disitu ada orang sholeh. Nanti yang gak sholeh juga sungkan, karena disitu banyak yang sholeh. 


Manusia itu orang yang saat baik saja ada salahnya
Jadi kenyamanan orang2 pergi itu, barokahnya orang2 nganggur itu. Wah ning kono masih rame, ada orang dipertigaan di perempatan. Apalagi kalau ada orang sholeh, pasti itu nyaman. Karena wilayah publik, dihuni orang2 yang? sholeh. Tapi orang pasti bilang, itu gak tertib, kita inginya hidup ya dikantor, atau ada yang suka di masjid, di masjid. Tapi kalau itu terjadi, itu gak ada tim SAR gratis, kalau ada orang kecelakaan, nolong. Makanya dalam makalah hikam itu paling masyhur, diantaranya itu. Manusia itu siapa? 

manusia itu man kaanats mahasinuhu masaawiya. Fa kaanats laa takunu masaawihi masawiya. Manusia itu orang yang saat baik saja ada salahnya, apalagi? pas salah. Jadi kalau kamu punya toko, lagi laris, dan saat laris itu anda ngrumat keluarga anda, anda melakukan kebaikan kepada keluarga anda. Pasti ada toko lain yang termahdzufkan, yang tersingkirkan. Makanya saya pernah diskusi sama kyai besar, guyonan sama saya. Kita2 sebagai kyai besar, kalau diundang di mushola kecil datang apa gak? Kata kyai yang satu, jangan datang gus, itu jatahnya kyai kecil. Terus kata kyai yang satu, datang gus, sebagai bukti tawadhu. Akhirnya kita ini, ya kadang datang kadang nggak. Jadi kita gak datang, supaya jatah kyai kecil gak terambil. Kadang ya mau datang, supaya dikira tawadhu. Makanya kalau seorang professor sering turun, kan nanti yang S1, S2 kan gak jadi bintang kalau professornya sering turun. Kalah terus. Jadi kadang2 orang itu berfikir secara ilmu, jangan rasa terus. 


Mengevaluasi Kebaikan
Jadi semua kebaikan yang kita lakukan, itu secara ilmiah bisa diperdebatkan. Ada orang seneng ngomong serius, supaya bangsa ini maju. Tapi bapak saya itu kalau pesen saya, kamu itu kalau ngiyayi itu jangan sering ngomong serius, masyarakat itu sudah capek, mikir utang, mikir keluarga, lah itu nanti sowan kyai dijak ngomong serius lagi. Nanti capek. Sehingga kyai2 dulu itu kalau ketemu orang nggih guyon terus. Karena tahu masyarakat itu sudah capek, sudah banyak yang takut tanggal kredit. Takut tanggal kredit, takut problem, sowan kyai diancam neraka lagi.  Itu kan ketakutan berkali-kali. Jadi makanya ini kan, kebaikan itu dievaluasi, karena kita kan gak Nabi, gak Wali, jadi kalau kata hikam itu apa yang anda kira baik, itu ada masalah. Apalagi sedang? masalah. 


Saya sering cerita, ada suami istri harmonis, harmonis sekali. Itu tanyakan ibuknya, pasti mulai gak peduli dengan ibuknya, karena  terlalu harmonis dengan istrinya. Wo itu pasti, bukan mungkin lagi. Jadi jangan tanya istrinya, tanya ibuknya, sudah mulai lupa sama saya. Ngalor ngidul sama istrinya. Tanyakan temanya wo itu jok nikah lupa temen. Tapi yang baik sama temen, tanyakan istrinya, jatah belanja untuk ngopi. Ya begitu terus, jadi siklus sosial itu... nah ini pentingnya saling minta maaf, karena dalam kebaikan kita, pasti ada kesalahan. Ketika karir kita baik di kantor atau di kampus, pasti dengan sendirinya ada yang tersingkirkan.  Meskipun itu sudah hukum alam, tetapi apapun itu kita harus minta maaf. 


Kisah Nabi yang seangkatan
Makanya banyak...(kisah) dulu itu ada dua nabi yang seangkatan. Itu luar biasa, debat ilmiahnya, tapi debat baik. Polemik itu dulu ya ada, mulai dulu juga ada. Yang Nabi Yahya itu suka berkawan orang2 sholeh, kalau ditanya kenapa kamu suka berkawan orang2 sholeh, ya enaklah, karena berkawan orang sholeh.  Yang Nabi isa sering berkawan orang2 yang gak jelas, ditanya, kenapa anda sering berkawan orang2 yang gak jelas? innamaa ana thobibun yudaawil mardho

إنما أنا طبيب يداوي المرضى

Nabi dan kyai itu ibarat dokter, ya tentu nyembuhkan yang sakit saja. Kalau anda seorang dokter, pasti neliti daerah2 pandemi, masak neliti daerah sehat? Jadi dulu bapak wasiat kesaya ya gitu. Kowe nak dadi kyai itu kayak bengkel. Jadi kyai itu gak siap ndandani oran gak jelas, ya jangan jadi kyai. Itu ya... masalahnya kita sendiri sholehnya pas pasan. Takut terkontaminasi, jadi yang jelek gak jadi baik, kita yang baik jadi jelek. Nah itu semuanya kan sejauh mana kita tidak terpengaruh yang negatif. (harusnya) yang negatif terpengaruh kita menjadi positif.  Jadi ini  cerita2 syawalan, bahwa dalam kebaikan kita itu ada kesalahan. Maka kita tetep istighfar, tetep saling minta maaf. Dulu bapak saya, kalau dicritani ada seorang kyai sampai sepuh jadi imam masjid, istiqomah sekali, dulu bapak saya itu ngguyu,  yo istiqomah istiqomah, tapi wong liyo terus raiso dadi kader. Calon2 kyai itu sudah putus asa, karena tidak pernah punya kesempatan jadi imam. Jadi dibalik istiqomah itu juga ada memahjubkan orang lain. Makanya alhamdulillah di Indonesia ada pegawai pensiun, kalau gak habis, karena yang anyar2 mesti ini kurang pengalaman, ini kurang senior, nah barokahnya ada pensiun. Masalahnya di dunia kyai gak ada pensiun. Tambah sepuh tambah mantap, nah itu sebaiknya mulai mundur2 sedikit, jadi imam masjid. Ya.. nyari2 yang lain, supaya ada kaderisasi. Jadi intinya itu, dibalik kebaikan yang kita lakukan pun ada masalah. Sehingga kita butuh istighfar. 


Ini pentingnya dawuhnya para wali2, wal istighfaruna yahtaju ilal istighfar. Ketika kita minta maaf, minta maaf sendiri itu butuh minta maaf lagi, minta maaf lagi itu butuh minta maaf lagi. Misalnya saya dengan mas ini akrab, pernah pakai uangnya misalnya. Itu kita bayar itu malah tersinggung, kayak orang lain saja mbayar. Minta maaf juga gitu, kayak kamu punya temen akrab, terus kamu minta maaf resmi, itu tersinggung. koyok wong liyo wae njaluk sepuro. Jadi kadang njaluk sepuro itu malah masalah. Itu kan sama itu kalau kamu punya temen akrab, terus mau main, Assalamu'alaikum, saget masuk nopo mboten? angsal mboten, boleh gak? main. Itu temen kamu pasti tersinggung. Artinya ketika anda merasa benar, protokoler ketika masuk ke rumah temen. (19.51)

Comments