Skip to main content

Gus Baha | Memahami makna Musibah dan Nikmat | Unissula Semarang

Bismillah
Washsholatu wassalamu 'ala rosulillah
Sayyidinaa muhammadin wa 'ala alihi wa shohbihi
wa man walahu

Temen2 Unissula ( Universitas Islam Sultal Agung Semarang) yang saya hormati, Pak Rektor, niki langsung ngaji nggih, karena waktunya gak banyak. 

Jadi ini kitab2 yang saya baca ini, di antaranya itu ada penjelasan tentang musibah. Musibah itu dari kata sesuatu yang mengenai kamu. Kemudian identik dengan makna yang tidak menyenangkan. Sebetulnya kata musibah itu tidak harus dari kata yang menyusahkan, apa saya yang mengenai kamu itu namanya musibah. 


Karena disebut...

مَّاۤ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةࣲ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَاۤ أَصَابَكَ مِن سَیِّئَةࣲ فَمِن نَّفۡسِكَۚ 

وَأَرۡسَلۡنَـٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولࣰاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِیدࣰا

Surat An Nisa 79

Dari kata apa saja Apa saja yang mengenai kamu, baik itu kebaikan juga namanya maa ashobaka, makanya terusanya ayat wa maa ashobaka min sayyiatin,  

Nah kemudian karena manusia itu karena nafsunya (besar), kalau yang tidak dikehendaki itu dianggap problem. Kalau yang tidak dikehendaki itu namanya? problem. Kalau yang dikehendaki itu namanya nikmat. Lah bahasa itu bahasanya manusia, kalau (pakai) bahasanya Alloh, (ndak tahu/ ndak pasti itu nikmat atau problem). 

Misalnya anda jadi panitia ozon. Malaikat penjaga ozon, mungkin kalau gak ada penerbangan itu mereka syukuran, karena gak terganggu. Tapi kalau anda pengusaha penerbangan, ya nganggep itu musibah. Jadi kalau nanti kamu ketemu malaikat penjaga ozon, (penjaga) kemurnian lapisan ozon. Kamu nganggep woh ini susah gak ada penerbangan, pasti kamu disemprot, kalau ngomong yang baik.

Nah begitu juga petani, kadang minta hujan. Nah pas hujan deras, tanyakan bakul es... ndak payu... (kan gitu). Jadi di ilmu kitab2 yang saya baca kata musibah, kata nikmat itu ada yang hakikat, ada yang menurut kita. Misalnya ya tadi... kalau anda malaikat penjaga ozon mungkin syukuran karena gak ada penerbangan. Kalau anda menteri bagian nangani tenaga kerja, tambah banyak pabrik tambah seneng, karena menyerap tenaga kerja. Tapi kalau anda mungkin menteri lingkungan hidup? woooo ini banyak limbah, ini banyak (ngrusuhi), nah kira2 seperti itulah gambaran hidup. 


Kalau Pak Bedjo jadi rektor, kata kroninya ya Alhamdulillah. Kata musuhnya ya ini Musibah. Jadi pola2 sosial itu begitu, Artinya kalau kita pakai bahasa manusia itu selalu ada subyektifitas, selalu ada nisbi. Lalu gunanya ngaji sama kyai ya tadi,  orang dilatih pakai bahasanya Alloh, ya pakai bahasanya Alloh ya tadi.. ya kita gak tahu persisnya ini nikmat atau musibah,  tapi dibalik itu ada hikmahnya, itu jadi bahasa ketuhanan karena apa? tidak mengklaim. Saya sering guyon, meskipun itu guyon tapi tak ilmuni. Misalnya tadi, Ada Pasangan pengantin baru, yang lagi harmonis2nya, itu orangnya bilang Alhamdulillah. Tanyakan ibunya, ( itu mulai lupa daratan) luupa ibunya, lupa keluarganya. Kalau harmonis itu njawabnya sama istri itu pasti... . 

Kalau ada pasangan yang harmonis, tanyakan ibunya.. Menantu njenengan baik gak? 
Woo... wes ngurusi bojone tok, lali wong tuwo. atau tanyakan temanya, saiki lali konco, saiki lali temen karena (saking harmonisnya).

(Nah) Di semua sekmen kehidupan itu seperti itu.  Sehingga agama itu mengajarkan bahasa2 sakral yang tidak lekang oleh waktu, misalnya baca subhanalloh (Maha Suci Alloh), Alhamdulillah, Subhana Robbiyal 'Adzhim. Karena bahasa manusia itu gak pernah sempurna, yang sempurna itu bahasa ajaranya Alloh, karena itu permanen. Dalam keadaan apapun ya Alloh itu Maha Suci, keadaan apapun ya Alhamdulillah, keadaan apapun ya Allohu Akbar. Sekali kamu ke ranah manusia itu... misalnya tadi, kalau sebuah negara itu makmur, makmurnya orang tho'at untuk ke Masjid, makmurnya orang nakal? mesti ke tempat2 maksiat. 

Jadi kalau kamu berdo'a makmur, untuk siapa? Dan ukuranya dipakai untuk? apa? Kamu dapat uang banyak, kalau orang baik, fikiranya ya untuk menafkahi anak istri, bangun masjid. Kalau orang nakal kan fikiranya macem2. Mungkin ingin Judi, ingin Booking siapa? pokoknya untuk kepentingan nafsu. Ngaji gini ini baiknya agama, agama datang untuk manusia, 

  • terus ada ketentuan halal haram, 
  • ketentuan melawan hawa nafsu, 
  • ketentuan mengelola nafsu, 
  • ketentuan meminimalkan nafsu. 

Sehingga tanpa itu? bahasa2 nikmat itu (bisa) hakikatnya adzab, karena nikmat yang mengarah ke untuk maksiat. Nah itu pentingnya ngaji, jadi orang akan.. ya tadi, Kalau kamu punya toko sedang laris2nya, tanyakan toko rivalnya... saiki sepi, laris punyak e (kubu pesaing). Tapi nanti yang sedang gak laris jangan katakan terus jatuh gak juga, barokahe we nyambet gawe loro kabeh, tak ngibadah wae. Nah... hal2 seperti ini itu harus diperhatikan, supaya orang itu menilai apa yang dialami itu tidak pakai ukuran nafsu, tapi ukuran yang (dipakai) menurut Alloh Swt. (maa 'indalloh). 

Makanya disebut wal baqiyyatush sholihat, baqiyyatush (sesuatu yang abadi), Sholihat niku (yang bagus). Makanya disebut, kalimat thoyyibah itu (misalnya) Subhanallohi wabihamdihi, laa ilaaha illalloh niku kalimat itu tu permanent. Tapi kalau kalimat manusia itu gak permanen. Tadi misale kamu bilang nasi itu penting, karena makanan pokok, tanyakan pakar diabet... nasi itu mengandung gula (kan gitu). Jadi selalu ada masalah. Sama... bisa melihat itu nikmat, karena bisa melihat apa saja, Kamu mulai tersiksa punya istri jelek itu ya karena sering banyak melihat itu..... Bahwa istri yang kamu punya itu paling gak cantik, barokahe sering nopo? melihat. Sama... misalnya orang punya inova itu senengnya bukan main, mulai ada musibah temenya kesana main, pakai alphard, langsung runtuh (senengnya). Gara2 temenya main pakai alphard, terus inovanya itu kelihatanya jelek. Makanya guyonanya orang haji itu kalau haji, kenapa kamu nangis? Semua orang itu kok cantik, karena melihat orang pakistan, turki, yang jelek hanya istri syaa. Akhirnya gantian yang istrinya nangis, kenapa nangis? semua orang gganteng, yang jelek kok suami saya. 


Nah disini hebatnya agama, ukuran mengelola nikmat itu...
laa tamuddanna 'ainaika. Kamu jangan pernah melihat yang gak milik kamu. Karena awal ketidak syukuran itu? melihat. Jadi awal ketidak syukuran itu karena melihat. Jangan arahkan pandanganmu ke hal2 yang.. tadi (contohnya). Jadi rektor sudah syukur.. nanti kalau ketemu mentri, terus dikandan kandani, koyok cah teka, diamuk i tok. Jadi menteri pendidikan ya gaya, bisa ngatur rektor, tapi kalau ngatur president. podo wae.... Tapi kalau jadi president yo nggaya, tapi nanti kalau (misalnya) Indonesia ada gak benernya, ada miskinya juga jadi sasaran salah salahan, tok wes. Sehingga semuanya juga ada problem. 

Nah tapi kalau kita melihatnya dengan ketentuan Alloh, rektor itu amanah, presiden itu amanah, mentri itu amanah. Saya pernah didatangi seorang mentri, juga pernah didatangi orang2 top. Gus saya njabat top, ini gimana? ya saya bilang kalau itu masuliyah (tanggung jawab), maka itu ibadah. Tapi kalau kamu ro'fahiyah kamu pakai hura2 itu ya maksiat. Insyaalloh tanggung jawab gus, Lha kalau tanggung jawab kan malah memperbesar ganjaran kan?  Kalau kamu sebelum rektor kan kebaikan kamu terbatas, teman kos, teman relasi, lha kalau satu rektor kan? satu unisulla. 

Makanya ada seorang wali ditanya, Kalau seandainya kamu punya doa satu untuk siapa? untuk presiden. Kenapa? kalau yang baik RT kebaikanya hanya satu RT, kalau untuk bupati, kebaikanya hanya untuk satu kabupaten, kalau presiden? satu negara. Masyhur itu, ada seorang wali ditanya...  Kalau kamu misalnya levelnya RT, kalau kamu tok yang baik kan.. ?  satu  keluarga yang baik. Makanya ada seorang wali yang sangat luar biasa ditanya, andaikan kamu punya satu doa sosial, lha kalau doa pribadi kan tentu khusnul khotimah, kalau kamu punya jatah satu doa sosial, kamu peruntukkan siapa? untuk president. Kenapa? sekali beliau baik, manfaatnya lebih luas kan... Lha ini punya jatah doa satu dingge dongakno RT yasudah, cuma lingkup satu RT itu saja yang baik. 

Jadi artinya loyalitas agama ini pada negara pada bangsa itu sudah tidak diragukan lagi, karena di islam itu ada hukum sosial. Nah cuma bedanya orang wali sama gak, kalau wali itu menganggap musibah itu dianggep awal kebaikan, karena seseorang kembali ke Alloh. Dulu itu orang kan gak takut mati. Rata2 orang itu kalau nguasai ilmu medis itu (seperti) menguasai semua. Gara2 covid belum ditemukan obatnya, banyak yang tawadhu. Kemarin2 kayak gak ada kematian, orang pedenya hidup.... Sekarang antara orang awam dan orang top, kayak  gak ada bedanya, sama2 ngitung hari. Iya kan? 

Lha pas itu manusia ngadepin mushibah itu, pontang panting. Wah negara yang katanya medisnya paling bagus, kayak negara2 singapura pontang panting semua. Makanya dari pengajian ini, sampeyan itu kalau sholat lebih in. Kalimat yang kamu lafadzkan dalam sholat itu kalimat yang paling permanent, (misalnya) Robbana lakal hamdu, Engkaulah yang dipuji, Engkau Maha Suci, Engkau Maha Besar, itu kalimat permanent. Kalau kalimat yang kamu bikin itu tidak ada yang permanent, karena subyektifitas tadi. Ketika tadi, kamu bilang penerbangan itu kosong atau minim, itu kamu anggap musibah, kata malaikat penjaga ozon, itu bagus. Misal kementrian tenaga kerja itu bilang banyak pabrik itu bagus, penyerapan tenaga kerja, tanyakan ahli lingkungan. 

Sama di President juga sama, ketika ini jadi presiden, temanya jadi President, temanya bilang Alhamdulillah.. tanyakan rivalnya? atau musuh politiknya. Rektor juga sama, Toko juga sama... Nah hal2 seperti ini itu yang menjadikan wali2 itu tidak berbicara tentang makhluk. hanya bicara tentang Alloh. Makane enten thoriqoh2 niku wiridan paling nikmat, Alloh, Alloh, Alloh. maksudnya sudah gak berbicara tentang makhluk. 

 قُلِ ٱللَّهُۖ ثُمَّ ذَرۡهُمۡ فِی خَوۡضِهِمۡ یَلۡعَبُونَ

Surat Al An'am 91


Sudah semuanya itu ingatnya sama Alloh saja, yang lainya itu biarin saja. 

dzar hum fi khoudhihim yal'abun

Makanya ada sholat istisqo' gak mandi-mandi. karena yang dipojok bakul es, ini kalau mandi ya saya gak payu. Ternyata ketika orang lain semangat amin, karena salahnya banyak. Ini amin saja, kenapa kamu gak semangat? saya gak punya salah, gak hujan juga gakpapa, saya ini penjual es. 

Jadi.. apa ya.. ya gitu itu, kehidupan ya gitu itu. Wong ini kabar2nya itu kata ilmuwan2 itu lapisan ozon itu membaik itu sekian puluh persen, gara2 pengurangan penerbangan. Lho iya.. bisa kamu bayangkan. Kayak singapura hongkong, permenit? iya kan? banyak sekali.. kalau yang bandara2 paling sibuk itu. Coba kalau kamu jadi malaikat bagian jaga ozon, Rapat terus.. gimana ini? cara menghentikan pesawat?? Mungkin rapatnya.. udah.. covidkan aja... Ya meskipun itu guyonan, ya biar tahulah orang itu kalau semua yang diciptakan Alloh itu ada hikmahnya, maksud saya begitu itu aja. Kalau ada pabrik tutup, tanyakan pakar lingkungan, bagus sekarang sudah gak ada limbah, karena pabriknya tutup. Tapi kalau kamu tanyakan pekerjanya?? musibah?


Nah bayangkan kalau bahasa subyektifitas kayak gini dipakai ilmu hakikat, kan kacau. Kalau dibicarakan itu hukum sosial, pasti ada subyektifitasnya. Yang di PHK ya gak mesti gak dapat pekerjaan, bisa saja yang di PHK akhirnya dapat pekerjaan yang lebih baik. Makanya kan ada pilot yang jadi penjual mie, ketika ditanya penghasilanya sedikit tapi kepuasan batinya? meningkat, karena ketemu keluarga, ketemu....yang dulu gak kebayang kan? ya saya berharap cara pandang islam ini bisa kita ikuti, bahwa dibalik semua itu ada hikmah, dan menjadikan kita kembali kepada Alloh Swt. 

Saya kalau nyontohkan di masyarakat itu, sampeyan kalau kecil, dolanan nekeran itu senenge gak karuan. Dolanan yuyu seneng, dolanan hal2 sing gak ngasilkan uang itu seneng. Tapi ketika anda dewasa, anda menjadi doktor, anda menjadi professor, kyai besar  menjadi goblok, untuk seneng aja nunggu punya alphard, punya rumah. Berarti pinter cah cilik, cah cilik itu hal2 sepele bisa? bisa bahagia. Padahal wis jadi professor, ape seneng ae angel e? Padahal ciri utama orang pinter itu kan mudah mendapatkan yang diinginkan. Ternyata mau seneng harus mahal. Sementara cah cilik itu untuk seneng segampang itu, terus pinter mana? kita dengan anak2. Jadi itu pelajaran bagi kita, bahwa kalau kamu di dunia ini  ketika kita kecil, ketika kita miskin, wong mlarat iku bisa (nyekel) mobil senenge ra karuan. Koyok wong kos, lek ora diusir buk kos, suenenge pol, (karena) terlambat bayar. 


Jadi makanya saya itu pernah ketemu menteri kalau guyon begini, penak ra menteri sak jane.. saya dulu itu mikir orang jadi menteri itu top. Setelah saya menjadi menteri itu ngerasa gak top, loh kenapa? tambah repot, karena semua kesalahan di kementrian saya itu kayak salah saya, dulu kan gak pernah salah.  Iya kan.. kalau kamu gak menkopolhukam, kalau gak ada keamanan atau apa, kamu gak salah. Ada orang miskin, kalau kamu gak menteri ekonomi kan gak salah, gara2 kamu menteri malah menjadi salah kan. Kalau kamu gak ketua bulog kan, kalau gak ada ketersediaan beras kan? gak salah, (tapi) kalau kamu ketua bulog kan? menjadi... salah.  Kalau kamu gak rektor kan, kalau unissula salah gak salah kamu, gara kamu rektor ya .....


Nah itu hebatnya islam, makanya Nabi itu harus punya hak syafa'at. Karena seorang nabi itu yang bertanggung jawab kepada umatnya. Iku wes keceluk umatmu, kudu mbok syafa'ati. Ya sama.. kalau kamu sudah jadi rektor, ini mahasiswa kamu, kalau ada apa2 kamu ikut tanggung jawab. Makanya Agama ini datang dengan rasionalitas yang tinggi, kenapa Nabi itu punya hak syafa'at. Ya karena beliau dekat Alloh itu pasti, ya karena itu tadi, kita ini kadung umatnya, maka menjadi tanggung jawab? beliau. Dan kita membaca sholawat itu bukti kita loyal, sama seperti mahasiswa harus punya kartu mahasiswa, bukti kalau kita loyal. Sama yang jadi umatnya nabi harus punya kartu untuk umat, yang ditandai dengan baca sholawat. Karena gak mungkin Nabi gak tanggung jawab. 

Sebelum kamu jadi president, semua compang camping negara itu gak salah kamu, gara2 kamu president, terus menjadi tanggung jawab kamu kan? begitu juga rektor, begitu juga RT. Ya gara2 nabi itu seorang nabi, maka harus tanggung jawab. Dan itu luar biasa, beliau diberi hak syafa'at, umatnya yang seharusnya menjadi ahli neraka, asal bertauhid, dijamin Ahli Surga. Meskipun lewat jalur apa? jalur syafa'at. Makanya saya minta sama unisulla, sama rektornya, sama ketua yayasan. Jangan apa2 itu hukumanya sanksi, apalagi DO. Kalau gak fatal banget itu jangan ..... (dihukum) karena ciri utama pemimpin itu Rois, Rois itu menjaga, menjaga itu ya tidak mengeluarkan. Kecuali hal2 yang ekstrim. Makanya dalam islam itu jangan mudah mengkafirkan orang. Makanya yang dilawan ahlus sunnah itu gerakan takfiri. Karena semangat Nabi itu yang luar itu dimasukkan, bukanya yang sudah di dalam dikeluarkan, iya kan? sebenarnya logika itu yang harus kita pakai.


Misalnya kita punya anak lima, yang dua itu nakalnya minta ampun, mugkin tetangga enak aja ngomong ngomong, usir aja pak, anak kok durhaka. Itu yang ngomong enteng gitu mesti tetangga sebelah. Nah kita orang tuanya, enake (lek ngomong) kowe raruh rasane? iku anak ku kan?  Sama Nabi itu gak terima kalau umatnya dikeluar2 kan dari islam. Karena Nabi itu sangat mencintai umatnya. Bahkan yang nakal pun, Nabi ngendikan tak beri hak syafa'at. Syafa'ati min ahli kabair, Saya punya hak syafaat untuk umatku sing gak jelas2. Karena semangatnya mengambil, atau memasukkan yang luar.... 
Ya kalau anak2 nakal itu semangat orang tuanya kan ndandani. enak ae tonggo usul kok ngusir? Nah pola2 yang seperti itu yang harus kita perkuat, 

  • semangat memasukkan, 
  • semangat mengayomi, 
  • semangat menjaga stabilitas, 
  • memanage konflik, 
  • memanage perbedaan, 

ya tadi, dimana2 itu nabi diutus untuk memperbaiki yang kurang baik. Memasukkan yang belum masuk. 


Makanya kenapa aliran2 takfiri itu ditentang mati2an oleh mayoritas ahli sunnah, mayoritas umat islam. Itu sebenarnya nentangnya bukan karena sentimen, nentangnya logis, dimana2  inginya warga indonesia yang rapati ngaku indonesia itu menjadi sangat indonesia. Semangatnya itu memasukkan bukan mengeluarkan. Udzkhulu fis silmi kaaffah, iya kan.. semangatnya untuk masuk, bukan untuk? 

Jadi logika kita menentang takfiri (yang sudah mengkafirkan ) itu sebenarnya logika umum. Ya gitu lah, kalau kita menjadi pengayom masyarakat (inginya ya seperti itu). Itu tidak hanya dalam ahli sunnah, (misalnya) kalau kamu jadi ketua RT ketua RW, kita Kyai, kita tokoh, inginya ya semangatnya merangkul, bukan memukul. Jadi tadi ya, pesen saya kalimat2 thoyyibah yang anda baca di sholat, itu dijiwai, karena kalimat yang permanent. Sedangkan kalimat yang kamu lontarkan dari dirimu sendiri itu, masih ada subyektifitas. Itu tidak bisa kamu pakai sowan Alloh. Yang bisa kamu pakai sowan Alloh itu kalimat2 thoyyibah tadi, karena itu permanent, kebenaranya permanent. Makanya disebut wal baqiyyatush sholihatu khoirun inda robbik. Tapi kalau kalimat yang kita utarakan? itu subyektif semua. Bilang sayang istri.. ya sampai kapan, ya gitu saja, iya kan..? cinta unissula ya sampai kapan? nanti kalau ada konflik, ditawari kampus lain yang lebih menjanjikan, ya perlu dipertimbangkan juga kan? apalagi cinta partai kan? wes malah tinggal kemana gitu. Jadi kalau cinta manusia itu subyektifitasnya itu ya seperti itu tadi. Tapi kalau cinta Alloh itu abadi, walladzina amanu asyaddu hubbal lillah. Kalau kamu mukmin betul orientasi yang paling kamu cintai itu Alloh. Nah sekarang ngaji2 seperti ini itu sudah langka, sehingga kalimat2 thoyyibah itu kayak mantra, kayak rutinitas. Endak itu sebenarnya filosofi, itu kalimat permanent yang kamu pertanggung jawabkan di depan Alloh itu ya Allohu Akbar, .... Makanya saya sering memberi contoh itu, kalau ada semut itu pacaran, pacaranya itu di daun mangga, dia asyik sama yang disenengi. Semut kan bilangnya, saya asyik pacaran karena pasangan saya mencintai saya. 

Tapi kalau kamu yang mengendalikan, kamu asyik itu karena godong e ora tak kipatno, sekali tak kipatno tuntas kamu. Ya sama.. ketika kita punya alphard nikmat, kumpul istri nikmat, makan nikmat, kata malaikat bagian gempa.. Kon gak matur nuwun mbek aku, tak hoyak. Tapi kita, karena keterbatasan kita sebagai manusia, nganggep makanan nikmat itu karena makan sate, makan dengan orang yang kita cintai. Tapi kalau malaikat bagian gempa? kuncinya disaya, apapun nikmatnya makanan yang kamu makan? kalau tak goyang? Lah itu sirrinya, kenapa kyai2 itu kenapa fatihahi malaikat, fatihahi penjaga langit penjaga bumi, itu karena berkontribusi pada kenikmatan yang sedang kita nikmati. Kalau gak kamu fatihahi itu bisa tersinggung. Dihoyak.. selesai. Nah itu bedanya kyai sama rektor pak, jadi saya mohon semohon mohon ya.. jadi kalimat thoyyibah yang sering anda baca di sholat, di luar sholat, coba patenkan di hati kamu, bahwa kalimat itu yang permanent. Alaihaa nahyaa wa alaihaa namut. Atas nama kalimat itu kamu berani hidup, atas nama kalimat itu kamu sampai mati bertemu Alloh, wa alaiha nubhas, dan insyaallohu minal aminin. Dengan kalimat itu juga kalau ketemu Alloh, pakai itu. Lha kamu kalau ditanya Alloh, bejo.. kamu siapa? mukmin gusti. Bersaksi bahwa engkau ini ala kulli syaiin qodir. Kalau misalnya ditanya, kamu siapa? rektor gusti. Mana kampusnya? lha bar kiamat, gak ada kampus. kan gak ada semua kan? maa indakum yanfadu, wa maa indallohi baaqi. Apa yang ada di sekeliling kamu, bisa hilang. Tapi apa yang terkait Alloh itu akan abadi. Makanya saya minta dengan menjadi rektor manfaatnya untuk kemanfaatan agama. Yaa.. bagi siapa saja, itu orientasinya itu agama. 

Saya sendiri itu sering tersiksa misalnya terkait  mungkin terkenal, dianggap alim. Tapi kalau sudah ingat, barokahnya terkenal saya bisa menterkenalkan Alloh dan Rosul lewat, hukum2 yang ditulis para ulama. Bukan menurut hukum yang ditulis menurut orang2 bodo. Kan repotnya seperti itu kan, semua orang ngatas namakan Alloh dan rosul, sementara gak pernah ngaji. Pertanyaan cerdasnya kan begini, bagaimana itu mewakili hukumnya Alloh dan Rosul sedangkan quran aja gak hafal, pasti itu pendapatnya dia kan? tapi kalau yang ngendikan itu orang alim, kan dia bacanya banyak. Itu kan seperti menurut Unissula, tapi dia tidak tahu tata tertib di unissula, pasti menurut dia kan? Yang berhak bilang Unissula kan yang menguasai AD/ART Unissula kan kira2 begitu, menurut indonesia, ternyata dia orang yang gak hafal UUD 45, berarti menurut dia bukan menurut... lah kira2 gitu di dunia kyai. Katanya menurut islam, tapi dia tidak nguasai Quran, gak nguasai Hadits... nah kira2 gitu. Makanya saya seneng, kalau orang yang ngaji itu orang yang nguasai quran dan hadits. Saya menyampaikan ini ya sesuai referensi dan bentukan Alloh dan Rosul, karena bacanya banyak. Yang berhak ngomong saya ini Indonesia ya.. yaang baca UUD yang baca PANCASILA dan ini itu.. sehingga sangat indonesia, gitu lho. Baca gak mau, tahu2 menurut islam, islam yang mana? gak pernah... (baca). Makanya ada seorang kyai pidato, tak tegur, dia langsung istighfar. Orang kyai harus kaya, kalau gak kaya gak dihormati. Walhasil suatu saat kyai itu sowan saya tak tanya, memangnya ada target dalam islam itu untuk dihormati? target dalam islam itu ingin diridhoi Alloh, kowe kok aneh2. Terus katanya harus, harus itu kan pengganti kata wajib kan? berarti yang miskin dosa semua. Terus dia bilang astaghfirullohal adzim, wes kliwat, sudah gak bisa diistighfari... Carane istighfar itu kamu harus mencabut kalimat itu di depan umum. karena kamu mengutarakan di depan umum, cabut juga di depan umum. Jadi kapan2 itu kamu bilang, ternyata kaya itu wajib, miskin juga.. penting. Itu kan sebenarnya cerminan fikiranya dia, karena lama miskin, terus bosen mikir, terus saking bosenya.... jadi kyai harus? kaya. Wong bosen2nya sendiri kok jadi statement atas nama islam. Coba kalau itu diomongkan kalau pas acara isro miroj, dia yang ditunggu2 fatwanya, itu kan seakan2 fatwa islam. Padahal fatwanya sendiri. 

Nah itu makanya kalau pas sholat, kalau pas wiridan, tengah malem, subhanalloh Astaghfirulloh, itu lah kalimat permanent yang alaiha nahya wa alaihaa namut, wa alaihaa nubhas. Nggih ngoten.. Assalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh. 



Comments