Skip to main content

Gus Baha | Haul Mbah Hamid Pasuruan Oktober 2021 | Pentingnya sanad keilmuan

 

Apapun baiknya tentang ahli sunnah wal jama'ah, orang itu gak boleh serius mempertahankan ahli sunnah wal jama'ah. Gak boleh serius. Karena serius itu memancing perlawanan. Sehingga Nabi ngendikan...


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
ألا إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق
ولا تبغض نفسك فى عبادة الله تعالى 
فإن المنبت لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى

وقال عليه السلام: نفسك مطيتك فارفق بها

Ingatlah, bahwa islam itu agama yang kokoh. \
Santunilah dirimu dalam beragama, 
jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu kepada Allah. 
Orang yang memberatkan kendaraannya dengan beban yang berat
/beratnya perjalanan 
maka ia tidak akan sampai pada tujuan 
dan akan kehilangan kendaraannya

dirimu itu kendaraanmu, maka santunilah ia.

Agama ini ideologinya mantap, logikanya mantap. Maka kawallah dengan yang santai saja, yang rileks. Saya beri analogi begini, dua tambah dua itu kan empat. Perlu gak? kamu ngotot kampanye dua tambah dua itu empat? gak perlu kan? karena kebenaran dua tambah dua sama dengan empat itu adalah kebenaran yang mantap. Jadi sampeyan gak usah mati-matian mbelo ahli sunnah sampai menafikan yang lain, mengadili yang lain. Itu coro sekarang malah kurang produktif, karena menjadi ideologi yang mengancam, bukan ideologi yang merangkul. Sehingga guru2 kita, mulai bapak kulo piyambak, mbah moen, mbah hamid, niku ketemu kelompok macem2 niku nggih mbotek terlalu ketok ekstrim. Bukan mengakui, tapi itu memang gak produktif. Bongso seneng tukarang, seneng geger itu gak produktif. 

Karena ...
إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق
inna hadzad diina matinun fa-aughil fiihi bi rifqin

Agama ini sudah aman, sudah bagus, maka kawalah dengan halus. Ya kayak orang kampanye di Indonesia tentang orang pentingnya makan nasi. Orang tahu semua lah, gak usah kamu cerita gizinya nasi gini, makan nasi fungsinya gini, orang sudah tahulah fungsinya nopo? nasi. Begitu juga mahdzab ahli sunnah wal jama'ah. Satu mahdzab yang sanadnya jelas, akurasinya jelas. 



Sanad Mbah Hamid Pasuruan
Nah saya tak cerita tentang sanadnya mbah hamid, mbah hamid dulu tentu ngaji sama abahnya sendiri, Kyai Abdulloh, karena itu sudah babul ilm,darul ilm, sudah komunitas ilmu. Diantaranya beliau juga pernah ngaji juga di Kyai Kholil Harun. Kyai kholil harun itu masih pernah mbah2nya mbah maemoen. Terus ngaji sama mbah dimyathi di termaz, Mbah dimyati itu adik kandungnya kyai mahfudz at turmuzi. Jadi Jadi kalau sanadnya mbah hamid pakai termaz ya mbah hamid, kyai dimyati at turmuzi, lalu mbah mahfudz termaz, terus shohibul i'anah sayyid abi bakar sato, terus sayyid ahmad zaini dahlan. 

Nah sayyid zaini dahlan ini gurunya syaikhona kholik ketika mondok di mekkah. Jadi semuanya ketemu, termasuk mbah shiddiq dulu (mbah shiddiq sini, keluarga sini) itu ngaji ke syaikhona kholil, itu langsung ke sayyid zaini dahlan. Nah kenapa sanad itu penting? begini, saya beri analogi. Teks itu liar, karena teks itu mau gak mau harus pakai lafadz. Kata2 itu bisa jami'un li kulli afrodi. Ini sekaligus muqoddimah untuk haulnya mbah hamid. Makanya ketika mbah hamid diuji sebagai pakai ushul fiqh, beliau juga ngaji jam'ul jami' (itu saya seneng) karena disitu nanti ada taqyidul muthlaq bil muqoyyad. atau taqyidul 'aam bil mukhoshshis. Saya ulangi lagi ya, itu penting karena jika lafadz umum, itu ditetapkan sebagai umum, maka akibatnya. Saya ulangi lagi ya, kalau tidak ada sanad keulamaan, dan orang memahami dengan letterleg, apalagi dengan harfiyah, apalagi orang ini berjanji tidak akan menambahkan sedikitpun apa yang ada di quran. Maka tingkat menyesatkanya itu bahaya sekali, bukan sekedar bahaya, tapi bahaya sekali. 


Saya beri contoh, misalnya contoh yang gampang2 saja, yang juznya belum terlalu jauh. 

وَأَن تَجۡمَعُوا۟ بَیۡنَ ٱلۡأُخۡتَیۡنِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۗ

Di antaranya kita tidak boleh nikah, misalnya mbak sri gitu, sekaligus menikahi adiknya. Itu jelas, di quran hanya menyebut wa an tajma'u bainal ukhtain. Jaman nabi sugeng, nabi itu nambahinya ya hanya sedikit. wa laa bainal mar-ati wa ammatihaa, wa laa bainal mar-ati wa kholatihaa

لا يجُمَعُ بين المرأة وعمتها، ولا بين المرأة وخالتها

Juga gak boleh, kamu nikahi sri sekaligus buleknya atau budenya, baik dari bapak ataupun dari ibu. Berarti yang disebut quran itu bainal ukhtain, yang disebut hadits itu hanya bainal ammatihaa wa khollatihaa hanya dua kelompok. Sementara tidak menyebut wa laa bainal mar-ati wa jaddatihaa. Kemudian orang2 fiqh yang mu'tabar semuanya sepakat, tidak boleh nikahi perempuan dan orang yang ada hubungan mahrom. Sehingga ada qoidah, dua perempuan yang andaikan salah satu itu lelaki kok tidak boleh nikah, maka tidak boleh dinikahi satu lelaki bi nikahin wahid. Artinya kalau ada orang kampanye, hanya megang quran, tidak lebih dan tidak kurang, berarti dia hanya mengharomkan al jam'u bainal ukhtain. Itu betapa bahanya dalam islam, terus orang nikah sri dan budenya, orang nikahi sri dan mbahnya, mbah dan cucunya. Kayak apa bahayanya..mereka sudah pongah, berkampanye tidak boleh menambahkan apa yang ada di quran. 


Tapi barokahnya ngaji sama masyayikh, termasuk tadi mbah hamid ngaji jam'ul jawami'. Itu ada kaidah ilmu, namanya balaghoh. wa antajma'u bainal ukhtain itu min baabi ithlaqil babi, wa irodatil kul. Atau ithlaqul juz wa irodatil kul. Yang disebut hanya sebagian, tetapi yang dimaksud adalah semua perempuan yang punya hubungan mahrom itu tidak boleh dinikahi fi waqtin wahid. Nah seperti itu kan kayak keren, orang kampanye kembali ke quran, tidak mengurangi dan tidak menambahi. Tetapi terus bahayanya kayak apa, ketika orang hanya berpegangan dengan wa antajma'u bainal ukhtain. Maka ciri utama ahlus sunnah itu maknani quran dan hadits itu berdasar sanad. Ya seperti yang saya terangkan tadi, kalau saya ngaji mbah moen, mbah moen ngaji mbah karim, mbah karim ngaji syaikhona kholil. Mbah hamid ngaji mbah dimyati termaz, mbah dimyati ngaji mbah mahfudz, mbah mahfudz ngaji sayyid abi bakar sato shohibul i'anah, beliau ngaji sayyid zaini dahlan. Atau disini pakai mbah siddiq, atau pakai buyut2, mbah siddiq ngaji syaikhona kholil, ketemu di sayyid zaini dahlan. Terus sampai sayyid utsman ad dimyati, sampai Rosulillah Saw. 

Nah pemaknaan ini penting, lafadz itu tidak boleh mengikat. Makanya kata Ibnu hajar al atsqolani, jika anda terikat oleh lafadz, orang mbasuh wajah tidak sempurna itu gak papa, tangan tidak sempurna itu tidak apa2. Karena yang ada itu 

ويل للأعقاب من النار

mbasuh polok yang tidak sempurna itu diancam nabi itu masuk neraka. Tapi nabi tidak ngendikan wailul lil yad minan naar. wailun lil wajhi minan naar. Nah ini kalau di dalam ushul fiqh disebut, min baabi waqiati 'ainin. Karena yang wudhu itu salahnya di mbasuh tumit, ada orang wudhu yang lupa tumitnya gak kebasuh, karena kejadianya seperti itu, nabi ngendikan 

ويل للأعقاب من النار

Apa tidak wail juga, ketika seseorang tidak membasuh tanganya secara sempurna? Apa tidak wail juga ketika seseorang tidak membasuh wajahnya secara sempurna? Kan sama2 wail, tapi ini tidak disebut Rosululloh Saw. Misalnya anda fanatik, pokoknya saya persis hadits, yang wailun hanya lil a'qob, kalau tangan gakpapa, wajah gakpapa, lho itu gendeng apa goblok? wes goblok, kampanye, saya berpegangan hadits (saja..). Jadi bahayanya baca hadits tanpa ilmu ushul fiqh kira2 seperti itu. Ada misalnya tak beri sekian contoh, lak ra paham yo kebangeten. Tadi sudah dua ya.. normalnya dua sudah pinter. Ini terakhir contoh yang ketiga. 

لا يقضي القاضي وهو غضبان

Orang itu tidak boleh membuat keputusan penting, apalagi seorang qodhi, Kalau pingin nyebut kyai yusuf, apalagi walikota. Ini kemarin sebelum jadi walikota perjanjian, gus njenengan wali beneran, saya tak wali kota saja. Ini keluarga kyai tapi cita2nya sederhana. Jadi ...... itu kalau dalam mahdzab tasawuf itu, itu saya mbah idris gus amak itu wali betul, tapi beliau sederhana sekali ingin jadi wali apa? kota. Itu kalau niatnya tawadhu, gak ingin nyaingi mbah hamid, insyaalloh barokah. Tapi kalau niatnya gak ingin tirakat, nah itu yang masalah. Karena ada dua wali besar, yang satu itu jadi wali karena kelirunya. Keliru itu maksudnya karena menyalai 'aliyal umur, bukan keliru maksiat gak. Saya bilang keliru itu tidak harus maksiat. Orang baik itu bisa keliru tapi gak mesti maksiat. Wali yang satu itu kalau sakit bilang ya Alloh ya Alloh... tapi yang satu bilang waduh mbok e, waduh mbok e. Suatu saat itu wali yang sambat bilang ya Alloh, ya Alloh itu njenguk wali yang sambat waduh mbok e, waduh mbok e. Ditanya, kamu ini wali kalau sambat kok waduh mbok e, waduh mbok e. Karena saya ingin kayak orang awam, gak sok wali walian ... ya itu bisa jadi wali.  Jadi nanti dilihat aja, kok di list wali kok masukkan gus ipul, berarti karena tawadhu' tadi. Ada juga wali itu kalau sholat gak mau shof awal, banyak,.. kok koyok wong pareg Pengeran ae, wani ning shof awal. 

Ada juga wali itu ditanya, apa kamu di surga itu ingin ngelihat Alloh, gak ...  (kaget... ) kan umumnya orang kalau ke surga kan ingin melihat? Alloh. Tapi jawabnya apa? Unazzilu dzalikal jamal annadzori mitsli. Alloh terlalu Agung, biar tidak terkontaminasi didelok mripat koyok aku ngene.. itu ya jadi wali. Ini terpaksa cari refferensi demi walikota. Makanya tadi.. saya itu jadi narasumber, penting gak penting sudah bener. Mergo wis tawadhu', rembang sini itu jauh. Gara2 diteror, ini yang manggil mbah hamid. Waduh.... Pakde saya,, ini kalau nelfon saya mesti ngomong, ini yang manggil mbah hamid. Nggih mbah. Ternyata disini berlaku teror. Karena beliau itu memang sepupu mbah saya. Jadi bermahdzab itu penting, karena kata itu liar. 


لا يقضي القاضي وهو غضبان

Seseorang yang sedang marah itu tidak boleh memutuskan keputusan penting. Baik itu qodhi, walikota, orang tua atau siapa pun. Kata qodhi itu dihilangkan. Gak boleh disitu dihilangkan.. hanya qodhi yang disitu, bikin keputusan kalau marah, kalau kyai boleh, kalau orang tua boleh, kalau walikota boleh. Gak bisa....  wahuwa ghodban itu kalau sedang marah. Kalau sedang lapar boleh, kalau sedang ngempet nguyoh, boleh, kalau sedang ngempet ngising? boleh. Padahal setelah dimaknai pakar2 ushul fiqh, ghodhob itu apa? haalatin yas-u kholqus shohih. Suatu keadaan yang membuat orang itu tidak normal. Nah keadaan yang tidak normal itu bisa orang yang ngempek nguyoh, ngempet ngising, orang yang banget laparnya, itu juga gak boleh bikin keputusan penting. Jadi ghodban bukan dimaknai marah tapi apa? satu keadaan dimana orang tidak sedang baik2 saja. Makanya imam asy syafi'i masyhur, kamu jangan rembukan sama orang yang besuk gak ada yang dimakan. ruwet... otaknya. Lho sidang madrasah, ambek guru2 sing bar diamuk bojone, wah yo error... sidang madrasah ambek wong sing sesuk kudu mbayar kredit. Mesti ditakok i,, dos pundi madrasah saene, pun ngeten pun sae...

Akhirnya kata ghodban tidak sebagai ghodban. Qodhi juga tidak sebagai...? qodhi. fata sa'ah bi sababil fahmu, ijtihad itu menjadikan logika menjadi luas. Nah orang yang tidak ahli sunnah wal jama'ah, sitik2 hanya kembali ke quran dan hadits. Betapa bahayanya itu, karena lafadz quran dan hadits, betapapun itu lafadz, yang pemaknaanya bergantung para pakar2 ushul fiqh. Nah ushul fiqh ini yang ngerti, ini kalau balaghof bab ini, ini kalau dhod begini... nah kira2 seperti itu mahdzab ahli sunnah wal jama'ah. Makanya saya disini pernah baca kitab ini berkali2 juga ada kajian khusus bersama gus hakim, gus kikin yang sekarang jadi pengasuh di tebu ireng. Saya juga pernah istifadah dengan mbah moen, dan berkali kali juga. pakai kitab risalah ahli sunnah wal jama'ah. 

Kenapa kita harus bermahdzab, saya beri contoh betapa bahayanya tidak bermahdzab. Saya beri contoh yang gampang2 saja. Misalnya begini, sholat itu kan madep kiblat, madep kiblat itu apa? ya mudhommus sholat. Karena nanti kalau kena cangkem elek, nah lak sujud madep ndi? Untung sampeyan ratahu mikir kan? makanya kadang kyai itu seneng wong goblok, mergo lak diterangno iku ra mikir. Sakjane sholat madep kiblat iku pas ngadek tok, lak pas rukuk mbek sujud? nah barokahe goblok podo ra takok. Dadi goblok iku yo penting, ngenakno kyai lah. Mulane kadang lak sampeyan takok, kyai iku kok kadang santrine goblok, timbang sing pinter.. kowe ra ruh rasane dadi kyai. Karena kenek wong pinter iku yo repot. Setiap bahasa itu pasti ngrujuk ke mu-dhomul amri, tema utamanya. Sehingga nabi lak ngendikan al hajju arofah. Apa haji itu tidak ada thowaf? apa haji itu tidak ada sa'i? tapi kok Nabi ngendikan al hajju arofah, ai mu-dzomul haji arofah. Nah bahasa2 seperti itu andaikan orang2 gak ngerti ushul fiqh terus maknani, al hajju arofah, sing penting lak wis ning arofah... laiyo.. itu kan yo ribet. Jadi intinya itu, apapun yang anda baca di dalam quran dan hadits, itu pemaknaanya harus ikut ulama. Dalilnya apa gus? dalil yang saya paling mengenang, dan tidak akan lupa ila yaumil qiyamah itu dawuhe mbah moen, ihdinash shirothol mustaqim, shirotolladziina an'amta 'alaihim, Wa alam yakun lillah, shirotoka. Seharusnya kan? tunjukkan kami ke jalan yang benar, jalan mu ya Alloh. Endak tapi Alloh ngendikan, shirotolladzina an'amta alaihim. Mergo kowe i raiso niru Alloh, Alloh ra mangan, Alloh ra turu, lak mbok terusno, Alloh yo ra kepingin dadi walikota. Kamu tidak bisa.. innalloha ta'ala laa ya-kul, wa laa yashrob, wa laa yanam. Alloh Swt tidak tidur gak makan, kalau kamu makan niru siapa? niru makane wong sholeh2. Niyate taqwi alal ibadah. Kamu tidur niru siapa? niru orang2 sholeh, gak bisa niru Alloh, lha wong Alloh tidak? tidur. 

Nah berarti kalau kamu ingin benar, harus butuh sanad, karena ketika Alloh ngendikan shirotol mustaqim, itu shirotholladzina an'amta 'alaihim. Itu dalil paling kuat betapa pentingnya sanad. Makanya sampai ada pepatah yang sangat mengancam tadi, man ta'allama bi laa syikhin, fa syaikhuhu asy syaithonu. Itu ancaman yang benar sekali, karena betapa bahayanya sorang, hanya berdasar terjemah atau teks, kemudian nyimpulkan hukum. Padahal lafadz ini terjun bebas, karena lafadz itu ya tadi, jami'. Dia akan kemana saja yang masuk afrodnya kalau masuk dalam ranah ushul fiqh. Tapi nanti setelah ada momentum muqtadhol hal, itu baru proporsinya hanya sampai mana? 

Misalnya sampeyan lihat syaikh nawawi al bantani, faqtulul musyrikiina, bunuhlah orang2 musyrik, itu kan ayatnya ekstrim. Misalnya haitsu wajadtumuuhum, kapan saja kamu menemukan mereka. Tapi kamu lihat di syaikh an nawawi, al musyrikin ai naqishina qoshotan. Musyrikin yang melanggar perjanjian. atau al muharribin, yang memerangi kamu. Tidak boleh semua musyrik itu boleh kamu perangi, karena ada musyrik2 yang wa  in janahu lissalmi fajnah lahaa wa tawaakkal alalloh. Lafadznya umum, tapi harus proporsional. Kalau sampeyan contoh ini gak pafam, saya kasih contoh sing mesti sampeyan faham. Kalau gak faham kebangeten, misalnya kalau istri kamu sedang seneng2nya, wes a mas, sampeyan arep opo wae tak turuti, opo wae.. jebule jawabane aku kepingin wayuh dek.. terus lhooo.. ojo, ojo iku. Jare opo wae, kan gitu. Jadi semua lafadz, maa min 'aamin illa yukhoshshosh. Tidak ada kata am kecuali, yadkhuluhu taksis. Keciali ada? taqshis. Misalnya kamu seneng sama istri, wes a dek, kemana2 berdua. Kowe ape ngising berdua? Jadi lafadz2 lhaiya jadi kalau ada lafadz umum di quran hadits, pasti ada? mukhoshosh.. maa min 'aamin illa wayadkhuluhu taqshish. 

Sama seperti di tafsir jalalain, innalloha ala kulli syai-in qodirun. Ndak memasukkan yang mohal (mustahil). Gak boleh ada pertanyaan gini,, ayaqdirullohu ta'ala an yudzhiba dzatahul 'aliyah? Apa Alloh mampu menghilangkan dzatnya yang agung? ya gak boleh seperti itu, qudroh hanya tata'allaqu bil mumkina. Gak boleh qudroh ta'alluq sama mohal. Apa Alloh kuasa, menjadikan satu ditambah satu 13? lho Alloh kok jak goblok iku piye? gak bisa.. qudroh itu hanya ta'alluq sama yang mumkin. Alloh ala kulli syai-in qodir, walikota yoiso dadi nabi.. yo repot.. Yo ora iso, wes ditutup. Iku wes barang mohal, faham nggih? Yowes ngono iku ahli sunnah wal jama'ah, lek wes  pinter koyok ngono mau iku ahli sunnah wal jama'ah. 

Comments