Skip to main content

KH. Abdul Haris Jember | Pembelajaran Nahwu Shorof 7 | Problematika Membaca Kitab Kuning | Analisis Teks

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh

Bismillah
Alhamdulillah


Washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah sayyidinaa Muhammadin wa’ala alihi wa shohbihi wa man wa laahu.

Robbisy rohlii shodri, wa yassirly amri, wahlul uqdatan min lisaani, yafqohuu qouli..



Amma ba’du


Pada kesempatan siang hari ini, kita melanjutkan kajian kita tentang problematika pembelajaran kitab kuning. Ini memang secara rutin kita laksanakan setiap hari jum'at. Tujuan kita sebagaimana sering saya tegaskan berulang-ulang, bahwa membaca kitab itu tidak hanya menjadi problem, tidak hanya menjadi permasalahan di lingkungan lembaga pendidikan formal, akan tetapi juga merupakan permasalahan di kalangan pondok pesantren. Oleh sebab itu trobosan2 upaya2 untuk bagaimana mempermudah cara membaca kitab itu oleh banyak kalangan dilakukan. Di antaranya oleh kita juga. Harapanya adalah banyak kalangan yang membutuhkan solusi, dalam rangka pembelajaran membaca kitab itu bisa menambahkan salah satu alternatif jawaban yang memungkinkan untuk kemudian diterapkan di lembaganya masing2. 

Kita sudah banyak, kita sudah episode ke 7, seperti yang sering kita tegaskan, kalau seandainya fahmul kutub itu menjadi tujuan pembelajaran. Maka minimal ada tiga komponen ada tiga unsur yang harus dipenuhi. Yang apabila itu tidak dipenuhi, maka kita sebenarnya kita tidak sedang menuju pada pencapaian kemampuan membaca kitab dalam rangka memahami kitab. Unsur itu adalah

  • Qowaid
  • Mufrodat
  • Tatbiq

Kita sudah mencoba untuk membahas dan memberikan rumusan2 fikiran2 kita tentang bagaimana belajar qowaid, dalam arti nahwu, dan juga belajar shorof. Apakah itu misalnya berkaitan dengan tashrif istilahi ataukah dengan tashrif lughowi. Kita juga pernah mengupas, sering kita tegaskan, banyak orang yang melakukan simplifikasi. Penyederhanaan - penyederhanaan bahwa membaca kitab itu adalah problem nahwu shorof. Kita tegaskan bahwa nahwu shorof itu merupakan bagian kecil, bahkan terkecil, dari kemampuan membaca kitab.  Orang yang kemudian memiliki kemampuan nahwu shorof, nahwunya bagus, shorofnya bagus, akan sangat bermasalah ketika membaca kitab, pada saat yang bersangkutan itu tidak banyak mufrodatnya. 

Mufrodat itu bahkan tidak terbatas, kalau seandainya kita coba misalnya menekuni bidang fikih misalnya. Maka mufrodat yang kita butuhkan adalah koleksi mufrodat dalam bab ibadah, juga dalam bab mu'amalah, juga dalam bab munakahat, juga dalam bab jinayah. Itu harus kita hafal semua itu. Kalau seandainya misalnya kita kepingin ke ilmu kalam misalnya, ya maka kitab2 yang kemudian disitu membahas tentang ilmu kalam itu harus kita pelajari. Karena mufrodatnya bisa jadi? berbeda. Kalau seandainya kita ngomong dalam konteks filsafat, ngomong dalam konteks kedokteran, ngomong dalam konteks pendidikan, mufrodat2 dalam fan atau bidang keilmuan tertentu, itu juga berbeda dengan fiqih, dengan tasawuf dan seterusnya itu.  Sehingga seperti yang sering saya tegaskan, sampeyan itu harus hati2 terhadap mufrodat, karena justru ditingkat mufrodat ini yang menjadi sulit. Itu sudah kita bahas sampai 6 episode kemarin. Sekarang kita akan mencoba tentang aplikasinya. Analisa teksnya. 


Asumsinya adalah, kalau seandainya peserta didik itu mau diajak beranalisa teks, asumsinya adalah nahwunya sudah tidak bermasalah, min alifihi ila yaihi. Dari A sampai z itu sudah hafal. Shorofnya baik tashrif istilahi maupun tashrif lughowi, pemahaman tentang shighot dan seterusnya, itu sudah tidak bermasalah. Akan bermasalah dan akan banyak lompatan2 berfikir, kebingungan dan seterusnya kalau seandainya peserta didik yang diajak beranalisa teks itu, kemampuan nahwunya masih belum lengkap. Shorofe kongkon tashrifan istilahi mboten saget, konkon tashrifan lughowi mboten saget. Jadi persyaratan peserta didik kita, murid2 kita, santri2 kita, untuk bisa diajak beranalisa teks, apabila ilmu nahwunya sudah bagus, ilmu shorofnya sudah bagus, mufrodatnya juga sudah punya. Jadi banyak pengalaman kita mengajar misalnya. 

Anak itu ketika melihat analisa teks itu hanya tertegun kebingungan begitu, karena apa? karena yang namanya analisa teks itu akan melompat2. Dia ngomong tentang fi'il, dia ngomong tentang idhofah, dia ngomong tentang jar majrur, dia ngomong tentang na'at man'ut, dia ngomong tentang khobar, dia ngomong tentang macem2.  Sehingga saya perlu tegaskan, kalau seandainya sampeyan perlu mengajak peserta didik sampeyan untuk kemudian menganalisa teks, minimal kemampuan nahwu shorofnya itu sudah bagus. Sudah lengkap.. mulai bab tentang, misalnya kalimah (isim fi'il huruf), kemudian tentang i'rob baik itu marfu'atul asma', manshubatul asma', dan majrurotul asma', itu sudah selesai semua. Tashrifanya juga sudah bagus, istilahinya bagus, lughowinya bagus, pemahaman tentang shighot juga bagus, baru kemudian peserta didik kita, murid2 kita, santri2 kita itu berkemampuan atau memungkinkan untuk kita ajak beranalisa teks. Kalau tidak (memenuhi itu semua) jangan (beranalisa teks dulu) mesti bingung. 


Ya oleh sebab itu, sebagaimana kemarin yang kita tegaskan, salah satu terjemahan sistimatis, yang kemudian saya tawarkan itu adalah al hifdzu, kemudian al fahmu, kemudian at tatbiq. Hafal dulu, pokok e mulai awal sampai akhir, hafal. Kalau muride sampeyan mboten hafal, ya gak mungkin bisa. Jadi persyaratanya adalah murid2 kita itu harus total hafal, dari A sampai Z itu harus hafal. 


Tahapan Analisis Teks
Kemudian setiap kita menganalisis teks, apakah seseorang itu sudah bagus atau belum bagus, atau sudah hebat baca kitabnya itu, atau belum hebat. Pasti mengikuti tahapan2 mengikuti analisis teks. Apa tahapan analisis teks itu? 

yang pertama identifikasi
yang kedua i'robisasi (menentukan i'rob)
yang ketiga baru kita istilahkan (murodisasi)


Murod ini adalah pemahaman teks, sebelum murodnya ini bisa disimpulkan pasti orang sudah ngerti kedudukan, ini kira2 rofa' ini kira2 nashob, ini kira2 jar. Untuk bisa menentukan ini dibaca rofa' nashob jar, apabila seseorang itu sudah ngerti identitas masing2 kata, identitas masing2 kalimah, yang merangkai sebuah teks. Jadi yang pertama kali harus dilakukan ketika kita itu menganalisis teks itu identifikasi, jadi kita kelompokkkan kata2 kalimah2 (kalimat itu kalau seandainya bahasa indonesianya kata). Yang merangkai sebuah teks itu kita identifikasi. 


و يستحب لكل من حضور الصلاة الجمعة أن يكون على أحسان حال من النظافة و الزينة 

Pertanyaanya adalah apakah wawu ini termsuk dalam kategori isim fiil atau huruf? 
yustahabbu ini isim fiil atau huruf
li ini adalah termasuk isim fiil atau huruf
kulli ini termasuk isim fiil atau huruf?

Itu kemudian terus seperti itu. Pertama kali ketika kita memahami atau menganalisis teks itu tahapan yang pasti dilalui apakah oleh orang yang sudah hebat membaca kitabnya, atau belum hebat membaca kitabnya. Yang membedakan adalah prosesnya begitu cepat kalau bagi mereka yang hebat membaca kitabnya adalah melakukan identifikasi terlebih dahulu. Identifikasi itu maksudnya apakah kata yang merangkai sebuah teks itu termasuk isim fi'il atau huruf?

Kalau seandainya murid2 kita itu melakukan identifikasi terhadap kata2 yang merangkai sebuah teks itu bermasalah, fi'il dianggap isim, isim dianggap huruf, kewolak walik, Tidak memungkinkan kemudian untuk melakukan proses lanjutan, yang kemudian kita istilahkan dengan i'robisasi ini tidak memungkinkan. Kira2 ini dibaca rofa' dibaca nashob, atau dibaca jar. Kok kemudian i'rob rofa' nashob atau jar nya itu tidak jelas, i'rob ini sangat berpengaruh pada murrod. Kalau seandainya sebuah kata itu fail diubah menjadi maf'ul bihi, maf'ul bihi diubah menjadi fail, maka murod itu akan berbeda. Misalkan

ini akan berbeda antara 

inamaa yakhsyallohu min 'ibadihil ulamaa a
dengan menjadikan Alloh sebagai fail, dan al ulama sebagai maf'ul bihi, dengan kata2 
inamaa yakhsyalloha min 'ibadihil ulamaa- u

Ini berbeda artinya, seperti yang sering saya katakan. Ketika kita menganalisisnya, hati2 ketika kalimat 

  • itu ada AL nya.  
  • ada ta marbuthohnya
  • dimudhofkan. 


Ini mau dibaca 

  • al madrosatu المدرسة
  • al madrosata المدرسة
  • al madrosati المدرسة
sama tulisanya


ini mau dibaca 
  • ar rojulu الرجل
  • ar rojula الرجل
  • ar rojuli الرجل
sama tulisanya


ini mau dibaca 
  • ibnul ustadzi ابن الاستاذ
  • ibnal ustadzi  ابن الاستاذ
  • ibnil ustadzi  ابن الاستاذ
sama tulisanya

Yang sampeyan akan hadapi, adalah kalimat2 yang memiliki karakter satu tulisan itu memungkinkan dibaca rofa', memungkinkan dibaca nashob, memungkinkan dibaca jar. Tapi itu semua bisa diselesaikan. Jadi saya ulangi lagi, bahwa tahapan berfikir ketika kita melakukan analisa teks itu adalah mesti yang pertama itu harus melakukan identifikasi, setelah identifikasinya tepat, tingkat akurasinya sudah 100%, baru dilanjutkan dengan i'robisasi. Kira2 dibaca rofa' dibaca nashob, atau dibaca jar. Ketika i'robnya sudah tepat, maksudnya rofa'nya ya dibaca rofa', nashobnya ya dibaca nashob, jar nya ya dibaca jar, jazmnya ya dibaca jazm. Maka kemudian memungkinkan murodnya itu bisa tepak juga. Karena i'rob itu sangat menentukan, seperti yang saya katakan, kalau ini saya buat contoh, dan ini ada dalam qiroah syadzah. 

انما يخشى الله من عباده العلماء

انما يخشى الله من عباده العلماء

Kalau dibaca innama yakhsyallohu min 'ibadihi al ulama-a, maka yang khowatir adalah Gusti Alloh. Yang dikhawatirkan oleh gusti Alloh itu hanyalah ulama. Kalau seandainya dibaca innamaa yakhsyalloha min 'ibadihi al ulama-u, dengan menjadikan lafadz Alloh itu manshubun ala lafdzil jalalati, istilah dalam lafadz Alloh itu bukan maf'ul bih, tapi manshubun ala lafdzil jalalati. Maka yang takut pada Alloh hanyalah ulama. Ketika dibaca rofa' dan dibaca nashob ternyata beda.... 

rofa' kalau disini yang khawatir adalah Alloh, dan itu tidak mungkin. 

nashob kalau disini yang ditakuti. yang takut hanyalah ulama. 

Ini lebih disebabkan karena (perbedaan i'rob) dibaca rofa' dan dibaca nashob. Saya kepingin menegaskan bahwa, ketika i'robnya kok kemudian beda, antara yang dibaca rofa' dan dibaca nashob, ternyata murrod yang dihasilkan juga berbeda. Ini harus ditegaskan oleh njenengan, oleh sebab itu tahapan yang dilewati oleh seseorang menganalisis teks itu, pasti seperti ini itu merupakan sebuah realitas. Disadari atau tidak disadari, kenyataanya ngoten niku. 

Pertama panjenengan butuh melakukan

  • identifikasi, yang selanjutnya
  • i'robisasi, yang selanjutnya adalah
  • murodisasi. 


Jadi kalau seandainya dari contoh ini kita coba untuk identifikasi, 

و يستحب لكل من  اراد حضور صلاة الجمعة أن يكون 

على أحسن حال من النظافة والزينة

Bagi teman2 yang baru belajar, atau kita sebut sebagai newcomers, pendatang baru, mesti ngoten disek. Harus ditegaskan dulu, ini isim fi'il atau huruf. Nopo o sebabe? karena logika yang harus dikembangkan, ketika kita bertemu dengan isim fi'il dan huruf itu berbeda. Ini sebagai pembukaan awal, pokok e panjenengan, lek wis melakukan identifikasi, kok kemudian yakin bahwa sebuah kalimat itu termasuk dalam 

kategori huruf, maka ini sering saya katakan. Huruf itu, fikiran selanjutnya itu. Mesti ditanyakan klasifikasinya, jenisnya itu huruf yang nopo? Huruf itu ada yang muattsir ada yang berpengaruh untuk analisis lanjutan, ada yang ghoiru muattsir ada yang tidak berpengaruh untuk analisis lanjutan. Jadi kalau sampeyan ketemu huruf, huruf niku wonten sing harus diperhitungkan, harus diperhatikan, lebih disebabkan ini akan berpengaruh untuk analisis lanjutan, ada huruf itu yang tidak berpengaruh. 


Kategori fi'il. Kalau kita bertemu dengan fi'il bagaimana? logika ketika kita bertemu huruf, dengan fi'il itu beda. Kalau seandainya panjenengan sudah meyakini, bahwa lafadz yang sudah dianalisis itu berkategori fi'il, maka analisis lanjutan yang harus dikembangkan pertanyaanya adalah
kira2 

  • apakah ini fi'il madhi/ mudhore'/ amr?
  • apakah ini termasuk dalam kategori mabni / mu'rob?
  • apakah ini termasuk dalam kategori ma'lum / majhul?
  • apakah ini termasuk dalam kategori lazim/ muta'addi?

Dimana saja sampeyan, kalau sudah bertemu dengan fi'il, pertanyaan wajib untuk analisa teks, yang harus dijawab adalah empat.  Yang pokok itu empat, yang lain itu boleh tidak dijawab. tapi kalau tatbiq, kerangkanya adalah pertanyaannya ketika kita menganalisis fi'il, adalah empat... (seperti di atas). Uraian semacam ini, bisa jadi dijadikan sebagai panduan ketika sampeyan belajar, juga sebagai panduan ketika sampeyan mengajar. Lek belajar, misalnya diparingi kampus, diparingi kitab kosongan, disuruh menganalisis teks, ketika bertemu huruf, ditanya kira2 ini berpengaruh pada analisis lanjutan atau tidak? Kalau seandainya bertemu dengan fi'il ada empat pertanyaan pokok yang paling tidak harus dijawab. 

  • apakah ini fi'il madhi/ mudhore'/ amr? (mengetahui zaman) 
  • apakah ini termasuk dalam kategori mabni / mu'rob?
  • apakah ini termasuk dalam kategori ma'lum / majhul?
  • apakah ini termasuk dalam kategori lazim/ muta'addi?


Sehingga kalau sampeyang mempelajari tentang fi'il, maka sampeyan mesti memahami, bahwa konsep tentang madhi mudhore' amr, ini konsep dasar. Untuk mengetahui mabni atau mu'rob, dari madhi mudhore' amar? sudah bisa ditebak. Sehingga kalau tidak jelas madhi mudhore' amrnya? maka mabni mu'robnya juga tidak jelas. Jadi, pertanyaan pertama, kenapa fi'il itu kok harus diungkap termasuk dalam kategori fi'il madhi mudhore' amr, disamping menunjukkan zamannya, sedang telah atau akan. Juga menjadi pintu masuk untuk menjawab pertanyaan yang kedua, apakah ini termasuk dalam kategori mabni atau mu'rob. Kenapa? karena kalau dipastikan ini adalah fi'il madhi, maka dia itu muthlaq mabni, kalau dipastikan dia itu fi'il mudhore', memungkinkan mabni memungkinkan mu'rob. Tergantung apakah fi'il mudhore' itu bertemu dengan nun taukid atau nun niswah? atau tidak. Kalau seandainya fi'il amr, itu muthlaq mabni. Jadi ini itu merupakan pintu masuk. 

Untuk mengetahui ini ma'lum atau majhul, konsep 
madhi mudhore'  amr juga berpengaruh. Karena sampeyan ketahui misalnya, kaidah majhul itu untuk fi'il madhi seperti ini

  • dhumma awwaluhu wa kussiro maa qoblal akhir
  • dhumma kullu mutaharriqin wa kussiro maa qoblal akhir
  • Dhumma awwaluhu wa futiha maa qoblal akhir

Penentuan madhi mudhore' amar ini menjadi pintu masuk untuk jawaban2 berikutnya. Oleh sebab itu, ini diletakkan yang pertama. Kenapa kemudian pertanyaan dari sebuah fi'il itu  mabni mu'rob, untuk apa ini? manfaatnya dalam analisis teks? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, salah satu yang harus kita jawab itu adalah bagaimana kira2 huruf akhir itu harus diharokati. Huruf akhir itu harus diharokati apa? Memang mabni mu'rob ini tidak langsung berpengaruh pada murod, tapi kalau seandainya kita sering mewaqofkan bacaan, misalnya yadhrib itu apa? yadhriba yadhribu ... itu diwaqofkan terus.. apalagi kita sedang berhadapan dengan anak2 pesantren misalnya. Maka orang gak begitu yakin, ini orang sebenarnya gak begitu faham ini. Konsep mabni dan mu'rob itu adalah kesan, bahwa kita itu faham. Harokat huruf terakhir itu apakah harus diharokati fathah, dhommah, atau sukun? Kalau misalnya yang kita hadapi itu fi'il mabni, misalnya Ini meskipun ada amil, tidak bisa berubah, karena ini mabni. Fi'il mu'rob itu jelas pada akhirnya, ini bisa berubah. bisa yadhribu an yadhriba atau lam yadhrib misalnya. 

Kenapa ma'lum majhul itu kok menjadi penting kemudian kita jawab? karena kita butuh klarifikasi apakah fi'il ini membutuhkan isim yang dibaca rofa' yang kemudian kita sebut sebagai fa'il, ataukah isim yang dibaca rofa' yang jatuh setelah fi'il itu disebut naibul fail. Antara butuh fail atau naibul fail ini bisa ditegaskan dengan menjawab apakah fi'il itu ma'lum atau majhul. Ketika kita pastikan bahwa fi'il yang kita temui adalah ma'lum, maka isim yang jatuh sesudahnya yang dibaca rofa' itu adalah fa'il, ketika kita sebut sebagai fi'il majhul, maka isim yang dibaca rofa' yang jatuh sesudahnya itu atas nama naibul fail. 


Kenapa lazim muta'addi itu kok butuh kita jawab, butuh klarifikasi? Karena jumlah fi'iliyah itu, fi'il itu mesti membentuk jumlah fi'liyah. Kadang2 cukup diberi fail saja sudah tam (sudah sempurna). Ketika fi'ilnya itu berupa fi'il lazim, itu tidak butuh maf'ul bih, sehingga diberi fail saja sudah sempurna (kalimatnya). Akan tetapi kadang2 tidak cukup hanya diberi fail saja. Akan tetapi lebih dari itu juga membutuhkan maf'ul bih. Dan itu yang menentukan itu apakah lazim atau muta'addi. 


Jadi saya kepingin menegaskan, ngeten mawon, pokok e njenengan, lek sampeyan sedang menganalisis teks, dan sampeyan bertemu dengan kalimat fi'il, ada empat pertanyaan yang tidak bisa tidak harus dijawab oleh njenengan. Klasifikasi f'il yang lain boleh tidak dijawab, meskipun penting juga untuk kemudian kita ketahui. Misalnya shohih mu'talnya sebuah fi'il, mujarrod mazidnya sebuah kalimat fi'il itu tidak wajib dijawab. Akan tetapi kalau sudah terkait dengan madhi mudhore' amr, kemudian mabni atau mu'rob, kemudian ma'lum atau majhul, kemudian lazim atau muta'addi itu adalah pertanyaan yang wajib dijawab. Itu sebagai pendasaran awal. 


Kalau seandainya yang kita temui itu adalah isim bagaimana logika yang harus dikembangkan selanjutnya? Kalau seandainya kebetulan yang kita temui, saat kita menganalisis teks itu, kita yakin itu adalah isim. Maka pertanyaan lanjutanya adalah pasti seperti itu, tidak mungkin tidak. Apakah kalimat isim itu harus dibaca rofa' apakah dibaca nashob, ataukah dibaca jar? Jawabanya jelas. 

  • Kapan isim itu dibaca rofa' - apabila termasuk marfu'atul asma
  • Kapan isim itu dibaca nashob - apabila termasuk manshubatul asma
  • Kapan isim itu dibaca jar - apabila termasuk majrurotul asma 

Dan ini tidak mungkin berubah, inilah yang sering saya katakan, karena yang namanya Ilmu nahwu ini adalah ilmu matang, tidak mungkin berkembang, ilmu nahwu itu ilmu matang, ilmu yang tidak mungkin berkembang, sehingga tinggal hafalan sampeyan. Marfu'atul asma itu apa saja? gak mungkin berubah itu dari dulu sampai sekarang yang namanya marf'uatul asma adalah 

  • fail, 
  • naibul fail, 
  • mubtada', 
  • khobar, 
  • isim kaana, 
  • khobar inna, 
  • tawaabi'. 


Yang namanya tawabi' itu sejak dulu sampai sekarang tidak mungkin berubah, mesti ada taukid, ada na'at ada athof, ada badal, tidak mungkin berubah itu. Jadi yang pertama kali kepingin saya tegaskan kepada panjenengan itu adalah bagaimana anda berlogika. Seperti tadi ketika kita mencoba itu, ketika kita menganalisis teks, seseorang itu pasti melalui tiga tahapan ini. 

Pertama kali adalah melakukan identifikasi 
yang kedua itu melakukan i'robisasi
yang ketiga itu melakukan murodisasi

Ketika dalam identifikasi kok kita temui adalah fi'il, maka ada empat pertanyaan pokok, yang tidak bisa tidak untuk analisis lanjutan, yang harus kita jawab. 

Apa fi'il ini termasuk dalam kategori madhi mudhore' amr?  
Apakah fi'il ini termasuk dalam kategori mabni / mu'rob?
Apa fi'il ini termasuk dalam kategori ma'lum / majhul?
Apa fi'il ini termsuk dalam kategori lazim / muta'addi?

Menjadi bermasalah kalau kita tidak mengerti apa itu fi'il madhi, apa itu fi'il mudhore, apa itu fi'il amr. Apa itu fi'il mabni/ mu'rob? apa itu fi'il ma'lum/ majhul? apa itu fi'il lazim/ muta'addi? itu gak ngerti, gak mungkin bisa diajak beranalisa teks. Oleh sebab itu bahwa untuk bisa melakukan analisa teks itu, asumsinya, murid2 kita itu sudah hafal semua ini. Tidak bisa tidak, apakah konsep fi'il, apakah konsep isim, apakah konsep huruf, apakah konsep marfu'at, manshubat, majrurot, itu semuanya harus hafal, kalau seandainya tidak hafal, ya tidak mungkin (kita ajak beranalisa teks). Kalau seandainya yang kita identifikasi isim bagaimana? logika yang harus dikembangkan? Isim itu pasti ada logikanya, terutama tertuju pada tiga hal. Apakah isim yang kita analisis itu termasuk yang dibaca
rofa'
nashob?
jar? 

Kalau seandainya ketemu dengan huruf, maka seperti disini kita tegaskan, apakah huruf itu berpengaruh pada analisis lanjutan? atau tidak. Memang ini istilah ini dalam ilmu nahwu tidak dikenal, akan tetapi yang kita simpulkan ketika kita melakukan analisis teks itu, huruf itu ada yang berpengaruh, ada yang tidak. Seperti disini misalnya.... 


و يستحب لكل من حضور الصلاة الجمعة أن يكون على أحسان حال من النظافة و الزينة 


maka yang seperti saya katakan tadi, karena kita harus melakukan identifikasi, wawu itu harus kita pertanyakan, karena wawu itu banyak jenisnya. Ada yang disebut sebagai wawu ibtidaiyah, ada yang disebut sebagai wawu isti'nafiyah, ada yang disebut sebagai wawu athof, ada yang disebut sebagai wawu haliyah, ada yang disebut sebagai wawu ma'iyah, ada yang disebut sebagai wawu qosam, ada wawu2 yng lainya. Sampeyan harus sudah siap, ketika sampeyan mau melaksanakan analisa teks. Kenyataanya beda, beda

و يستحب

wawunya ini adalah muatsir atau ghoiru muattsir? apakah ini berpengaruh pada analisis lanjutan atau tidak? Karena disini termasuk dalam kategori wawu ibtidaiyah, maka ini termasuk yang tidak berpengaruh. Huruf itu kenyataanya ada yang berpengaruh ada yang tidak berpengaruh. Seperti huruf jar, itu berpengaruh, itu berfungsi mengejarkan huruf yang dimasukinya. Huruf athof misalnya, itu berpengaruh, untuk analisis lanjutan, karena kalau seandainya maka kalimat yang jatuh sesudahnya itu disebut sebagai ma'thuf. Nah ma'thuf ini sudah ada hukum tersendiri, cara bacanya harus disesuaikan dengan ma'thuf alaih. Berarti wawu ini mengikat, wawu yang jadi wawu athof ini mengikat. Berarti dia berpengaruh, mempengaruhi kalimat selanjutnya. Kalau kemudian wawu ibtidaiyah, wawu isti'nafiyah, itu kan tidak berpengaruh, kenyataanya seperti itu. Maksudnya tidak berpengaruh itu kalau bahasa sederhananya adalah meskipun dibuang tidak ada pengaruhnya. Tidak akan berpengaruh pada murod disitu. Oleh sebab itu sering saya katakan, huruf itu ada dua macam 

ada yang muatsir, yang muatsir ini bisa jadi berfungsi sebagai amil, bisa jadi ghoiru amil. 
ada yang ghoiru muatsir. 

Sampeyan kalau berfikir tentang huruf, konsepnya seperti di atas. Misalnya kata2 lau, misalnya. Lau itu kalau seandainya kalau kita lihat lau syarthiyah misalnya. Itu memang tidak memiliki fungsi sebagai amil, tapi berperan, kenapa? kalau lau itu sudah dianggap sebagai lau syarthiyah, maka dia dalam analisis lanjutanya butuh fi'lusy syarthi, butuh jawabusy syarthy. Mungkin dijelaskan dalam paparan ini agak ribet, butuh penjelasan lebih lanjut. Tetapi saya hanya kepingin menjelaskan logika berfikir dalam identifikasi kalimat itu, dalam identifikasi kata itu  ketika kita bertemu dengan isim, fi'il, huruf itu berbeda (identifikasinya). Pokoknya kalau sampeyan ketemu fi'il, pertanyaan empat itu harus dikuasai. Apakah itu kira2 termasuk madhi mudhore' amr.  Ini termasuk mabni mu'rob? ini termasuk ma'lum majhul? ini termasuk lazim muta'addi? Itu harus dikuasi, kalau isim pertanyaan selanjutnya tidak bisa tidak, apakah isim ini dibaca rofa' nashob atau jar, tidak mungkin tidak. 

  • Kapan isim itu dibaca rofa' - apabila termasuk marfu'atul asma
  • Kapan isim itu dibaca nashob - apabila termasuk manshubatul asma
  • Kapan isim itu dibaca jar - apabila termasuk majrurotul asma 
itu sudah ada tempatnya semua, itu tinggal hafalan. Dari dulu sampai sekarang tidak mungkin ada perubahan. Oleh sebab itu sering saya katakan, nahwu itu mudah. Nahwu itu tidak sulit, kenapa? karena ini ilmu mateng, ilmu ini tidak mungkin berkembang. Kalau seandainya kita bertemu dengan huruf, pertanyaan selanjutnya adalah apakah ini termsuk dalam kategori muatsir (yang berpengaruh terhadap analisis lanjutan) ataukah ghoiru muatsir (yang tidak berpengaruh terhadap analisis lanjutan?).  

و يستحب
misalnya wawu sudah kita anggap sebagai ibtidaiyah, berati ini kita anggap sebagai ghoiru muatsir (tidak berpengaruh pada analisis lanjutan)
ya sin ta ha ba ini, secara tulisan memungkinkan dibaca yastahibbu, atau yustahabbu.  Ingat, yang sering saya tegaskan bahwa yang sedang kita baca itu adalah tulisan yang tidak berharokat, dimana satu tulisan itu memungkinkan untuk dibaca dengan banyak alternatif bacaan.  Disinilah pentingnya penegasan, bahwa kita tentukan ini madhi mudhore amar? karena ada huruf mudhoroah ya, ini disebut sebagai fi'il mudhore'. Karena mudhore' maka memungkinkan mabni memungkinkan mu'rob. Kira2 yustahabbu ini yang mabni atau yang mu'rob ini? yang mu'rob... kenapa kok yang mu'rob? karena tidak bertemu dengan nun taukid dan nun niswah. Karena mu'rob maka pertanyaan selanjutnya mesti sama, apa itu? apakah dibaca rofa' nashob atau jazm. Itu pertanyaan umum, jadi bertanya itu juga penting.

Coba sekarang MZ diberi mic, saya sengaja yang saya tanyai itu pendatang baru. MZ ini belajar berapa tahun? MZ? masih sepuluh bulan. Dari nol, sampai 10 bulan. Jadi pelajaran nahwu itu dalam waktu10 bulan itu memungkinkan untuk kemudian dikhatamkan.  Sekarang semester berapa? MZ? meskipun semester tujuh, tapi baru belajar nahwu shorofnya ini, karena masih sepuluh bulan. 

يستحب
fi'il isim atau huruf? fi'il
fi'il madhi mudhore' atau amr? fi'il mudhore'
kenapa kok disebut sebagai fi'il mudhore'? karena ada huruf mudhoro'ahnya. Apa huruf mudhoro'ah disitu? ya. Ya itu fungsinya untuk apa? lil ghoib. Huruf mudhoro'ah itu apa saja MZ? ada empat hamzah, nun, ya, ta. Itu harus hafal semua memang, baru bisa diajak beranalisa teks. Kalau tidak hafal tidak mungkin. 
  • Hamzah itu memiliki fungsi apa itu? lil mutakallim wahdah
  • Nun lil mutakallim ma'a ghoirihi sama lil mu'adzommi nafsahu
  • Ya lil ghoib,
  • Ta lil ghoibah, lil mukhothob. 
Karena yustahabbu ini termasuk fi'il mudhore', mabni atau mu'rob? mu'rob, kenapa kok mu'rob? karena tidak bertemu dengan nun taukid dan nun niswah. Jadi yustahabbu itu adalah mu'rob karena yustahabbu itu tidak bertemu dengan nun taukid dan nun niswah. Ketika sebuah kalimat fi'il itu adalah mu'rob, pertanyaan selanjutnya itu bagaimana MZ? dibaca rofa' nashob atau jazm. Pertanyaanya pasti seperti itu, tidak mungkin tidak. Yustahabbu ini kira2 dibaca rofa' nashob atau jazm? Untuk yustahabbu ini kira2 dibaca rofa' nashob atau jazm MZ? dibaca rofa'. Kenapa kok dibaca rofa' itu MZ? li tajarrudihi anin nawaashibi wal jawazim. Karena disitu li tajarrudihi anin nawashibi wal jawaazim. Apa itu li tajarrudihi anin nawashibihi wal jawazim? sepi dari amil nashob dan jazm. Tanda rofa'nya dengan menggunakan apa itu MZ? kenapa kok menggunakan dhommah? karena yustahabbu ini termasuk dalam kategori al fi'lulladzi lam yattashil bi akhirihi syai-un. Apa yang dimaksud al fi'lulladzi lam yattashil bi akhirihi syai-un itu? yaitu fi'il mudhore' yang huruf terakhirnya tidak bertemu dengan sesuatu, yang dimaksud sesuatu disitu apa MZ alif tatsniyah, wawu jama' ya muannatsah mukhothobah, nun taukid dan nun niswah. 

Jadi kenapa ini dibaca yustahabbu, ini dari pertanyaan kedua ini terungkap. Kenapa disini kok dibaca yustahabbu bu, kok tidak disukun, kok tidak difathah? itu dari pertanyaan mabni mu'rob, itu terungkap. istahabba itu artinya mensunahkan. yastahibbu itu mensunahkan, kalau yustahabbu itu disunahkan. Saya tegaskan tadi, kalau panjenengan gak ngerti artinya, gak ngerti apa artinya istahabba, yastahibbu meskipun bisa tashrifan, Sudah benar tashrifanya, tapi kalau seandainya tidak ngerti artinya, untuk mema'lumkan atau memajhulkan, itu juga bermasalah. 

Mahmuz dan Ajwaf - ma'lum majhul
Oleh sebab itu saya sering katakan sulit untuk kemudian difahami, orang yang kemudian kurang mufrodatnya bisa membaca kitab. Iki kiro2 sing enak yo opo yo? karena ma'lum majhul itu memang, kalau seandainya kita ngomong dalam konteks ajwaf misalnya, dalam konteks mahmuz misalnya, ma'lum majhul itu dari sisi tulisan sudah bisa disimpulkan, bahwa ini adalah ma'lum ini adalah majhul. 

Misalnya mahmuz, ini bacaanya ma'lum atau majhul. 

قرأ - kalau orang yang pernah berlajar tidak mungkin bacaanya majhul, ini pasti bacanya qoro-a, tidak mungkin quri-a karena kalau seandainya quri-a tulisanya seperti ini
قرئ

Maklum majhul itu, untuk kasus2 bina tertentu darisissi tulisan, tidak usah dilafadzkan tidak usah dicari artinya itu memungkinkan untuk langsung ditebak. Iso artine opo ora iso artine, lek iki mesti majhul
قيل - dikatakan.

iso artine opo ora iso ngerti artine, koyok ngene iki mesti ma'lum, 
قال - qola

سأل
سئل

Dalam konteks ma'lum majhul itu, pada wazan mahmuz dan ajwaf itu sudah bisa dipastikan. Tapi selain ajwaf dan mahmuz, itu tergantung bagaimana melafadzkan, melafadzkanya itu juga pada akhirnya tergantung pada arti. Jadi sampeyan gak iso, umapamne iki, gak dikek i artine opo? 

و يستحب لكل من حضور الصلاة الجمعة أن يكون على أحسان حال من النظافة و الزينة 

Opo artine iki, kira2 yustahabbu apa yastahibbu? ma'lum majhule itu gak mungkin ketahuan, kenapa? untuk mema'lumkan dan memajhulkan sebuah kalimat fi'il itu juga disesuaikan artinya itu apa? arti yang didapat itu apa? 

Dan disunahkan bagi orang yang hendak menghadiri sholat jum'at, opo sing disunnahake, opo? an yakuuna - jadi naibul fa'ilnya ada disini. Seperti itu, jadi kalau kita itu kemudian ilmunya sudah lengkap, persyaratan2 itu sudah lengkap, ada unsur qowaid, ada unsur mufrodat, ada unsur tatbiq, ketika melihat realitas semacam ini, lalu fikiran kita berdialog. Iki kiro2 ma'lum atau majhul ini? 

ma'lum - itu mensunnahkan
majhul - disunnahkan

Otomatis kalau majhul ya diikutkan pada kaidah majhul, untuk fi'il mudhorek apa kaidahnya? dhumma awwaluhu, wa futiha maa qoblal akhir. Di dhommah huruf awalnya, dan di fathah huruf sebelum akhirnya. Jadi gak bisa kemudian kita memutuskan ini ma'lum atau majhul kalau gak ngerti artinya. 

Memang dari sisi tulisan, bah tahu artinya atau tidak tahu artinya itu bisa langsung ditebak, kalau seperti ini tulisanya, mesti majhul ini. koyo ngene mesti majhul ini. karena kalau majhul pasti tulisan pangkone hamzah seperti ini. (Nah untuk tahu itu butuh pengalaman juga).

سئل

Jadi yang penting dalam pertemuan sangat terbatas ini, saya hanya kepingin menegaskan, meskipun ini tidak tuntas pokoknya kesimpulan sederhananya adalah tahapan berfikir ketika kita melakukan analisis teks itu mesti yang pertama adalah melakukan identifikasi, yang kemudian tingkat akurasi menentukan ini isim, ini fi'il ini huruf itu 100 persen sudah bagus, itu baru kemudian melakukan i'robisasi. Kiro2 ini diwoco rofa' ini diwoco nashob, ini diwoco jar. setelah itu baru murodisasi, kira2 maksud yang kita baca itu apa? itu yang pertama. 

Yang kedua sekarang, ketika sampeyan itu berlogika, ketika menganalisis teks, logika yang harus dikembangkan ketika kita bertemu dengan kalimat huruf, itu berbeda dengan ketika kita harus bertemu dengan kalimat fi'il, dan juga berbeda ketika kita bertemu dengan kalimat isim. Kalau bertemu dengan huruf, logika yang harus dikembangkan adalah apakah huruf ini berpengaruh pada analisis lanjutan atau tidak? yang kemudian kita istilahkan ini muatssir, apa ghoiro muattsir. Yang muattsir itu apakah dia berfungsi sebagai amil, atau ghoiru amil. Memang angel, umpamane dijelaskan dalam waktu satu jam ini kesulitan. Kalau seandainya kita bertemu dengan kalimat fi'il, ada empat pertanyaan pokok. Yang tidak bisa tidak harus dijawab. Apakah ini termasuk kategori fi'il madhi mudhore' atau amr, yang kedua apakah ini termasuk dalam kategori mabni atau mu'rob? yang ketiga itu adalah ma'lum atau majhul? yang selanjutnya adalah lazim atau muta'addi. 

Kalau seandainya itu gak bisa dijawab, madhi mudhore amar e gak jelas, apakah ini mabni mu'rob juga gak jelas? ma'lum majhulnya juga gak jelas, lazim muta'addi nya juga tidak jelas. Maka jangan harap, analisa sampeyan terhadap teks itu dianggap benar. Mesti kliru2 itu. Kalau seandainya yang kita hadapi itu bener2 adalah isim, pertanyaan lanjutanya hanya tiga itu. Nopo niku? apakah isim ini harus dibaca rofa' nashob atau jar? Isim itu tidak mungkin tidak harus memiliki kedudukan i'rob (meskipun) apakah isim itu dalam kategori mabni atau mu'rob. Itu harus punya kedudukan i'rob. Tidak mungkin tidak harus punya kedudukan i'rob. Isim itu mesti... meskipun isim itu mabni, kudu nduwe kedudukan i'rob. Tidak mungkin tidak, isim itu ning ndi wae, oleh sebab itu kalau sampeyan menentukan ini isim ustadz, sampeyan harus bertanggung jawab. Lek wes ngomong isim harus bertanggung jawab itu, harus diberi label rofa' nashob atau jar. Kalau fi'il belum tentu, fi'il itu baru kita harus bertanggung jawab untuk memberikan label i'rob, ketika mu'rob. Berarti kalau amar tidak memiliki hukum rofa' nashob atau jazm. Kalau madhi juga tidak memiliki hukum rofa' nashob atau jazm. Baru kalau seandainya fi'il mudhore' itupun kalau seandainya tidak bertemu dengan nun taukid dan nun niswah, baru ada hukumnya yang namanya fi'il itu. Kira2 ini diwoco rofa' nashob opo? jazm. Jadi fi'il yang mu'rob itu sedikit. Sebagian dari fi'il mudhore saja. Tidak semua fi'il mudhore' karena kalau seandainya semua fi'il mudhore' itu kok kemudian bertemu dengan nun taukid dan nun niswah, tidak memiliki hukum rofa' tidak memiliki hukum nashob, tidak memiliki hukum jazm. Karena apa? karena mabni. 

Tapi kalau ketemu dengan isim sampeyan, apakah isim itu termasuk dalam kategori mabni, ataukah termasuk dalam kategori mu'rob, semuanya sedoyo niku. Kudu diparingi hukum. Apa Rofa' apa nashob, atau jar. Itu sing penting untuk kerangka awal. Karena ini nanti sudah kita temukan kerangkanya, kerangkanya sudah kita temukan. Nanti kita coba praktek analisis teks yang sederhana2 dulu. Ini tadi saya cuma memberikan contoh2 kecil saja. Bagaimana melakukan identifikasi?  Bagaimana melakukan i'rob dan seterushnya itu. Nanti selanjutnya dalam tatbiq kedua nanti, terus... tatbiq dua tatbiq tiga tatbiq empat...

Yang pertama ini yang kepingin saya tegaskan cuman itu. Sampeyan itu yang pertama harus melakukan identifikasi disek, mari ngono i'robisasi, mari ngono murodisasi. Lek wes identifikasi ketemu fi'il hati2 yo opo carane ketemu fi'il. Yo opo cara mikir ning isim, yo opo cara mikir ning huruf. Iku kudu ngono iku, baru sampeyan ketika rijik seperti itu, kalau sampeyan pada akhirnya harus mengajar, insyaalloh murid sampeyan iku akan faham. Kita tidak sedang menggunakan metode2 yang menipu. Melakukan penyederhanaan2 dan seterusnya. Yang pada akhirnya murid2 kita itu tidak bagus, Sebenarnya dengan seperti ini kan main logika ini. Kalau anak itu pinter, senang justru. Seperti matematika kan? Itu seperti itu ya... waktunya sudah habis ini, kurang lebihnya mohon maaf. Wa billahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh. 





Comments