There's got to be somepart of our mind that came out our nature. I know that because I'm in a twin, an identical twin. And so when it came to writing my PhD dissertation. I thought to myself if there's any part of human behavior that has a biological origin. It must be our patterns of love and marriage. Because as Darwin would have said, if you have four children and I have no children, You live on and I die out. The game of love matters.
And so you would think there would have been selection for all kinds of behaviors that would enable you to fall in love with somebody, form a partnership and raise your babies as a team. And so that's why I started to study love, And you know people will often think,
"Well she studied love because had a bad relationship in high school"
Well, nobody gets out of love alive. We all have problems with love. But that did not stimulate me to study romantic love. It was simply because I was an identical twin. And I was absolutely positive that if there was any part of human behavior that must have evolved that must have a genetic and physiological component, it's who we love who we choose, how we partner, and how we raise our babies as a team.
Pasti ada sebagian dari pikiran kita yang berasal dari kodrat alami kita. Saya tahu itu karena saya adalah seorang kembar—kembar identik. Jadi ketika tiba waktunya menulis disertasi PhD saya, saya berpikir dalam hati: Jika ada bagian dari perilaku manusia yang memiliki asal-usul biologis, maka itu pastilah pola cinta dan pernikahan kita. Karena seperti yang akan dikatakan Darwin, jika kamu memiliki empat anak dan saya tidak punya anak, maka kamu akan terus hidup (melalui keturunanmu) dan saya akan punah. Permainan cinta itu penting.
Dan karena itu, masuk akal jika ada proses seleksi (alam) terhadap berbagai perilaku yang memungkinkan kita jatuh cinta kepada seseorang, membentuk kemitraan, dan membesarkan anak-anak sebagai sebuah tim. Itulah sebabnya saya mulai mempelajari cinta.
Dan Anda tahu, orang sering berpikir,
“Ah, dia mempelajari cinta karena punya pengalaman hubungan yang buruk waktu SMA.”
Padahal, tidak ada seorang pun yang keluar dari cinta tanpa luka. Kita semua punya masalah dalam cinta. Tetapi itu bukanlah yang mendorong saya untuk mempelajari cinta romantis.
Alasan saya sederhana: karena saya adalah kembar identik. Dan saya benar-benar yakin bahwa jika ada bagian dari perilaku manusia yang pasti berevolusi—yang pasti memiliki komponen genetik dan fisiologis—maka itu adalah tentang siapa yang kita cintai, siapa yang kita pilih, bagaimana kita membangun pasangan, dan bagaimana kita membesarkan anak-anak sebagai sebuah tim.
Comments
Post a Comment