Skip to main content

KH. Abdul Haris Jember | Pembelajaran Nahwu Shorof 39 | Munada

 

Pada kesempatan malam hari ini kita akan melanjutkan kajian kita tentang ilmu nahwu. Kita sudah masuk manshubatul asma, khususnya pada bab Al Munada. 

المنادى
Al munada (yang dipanggil). Ini berasal dari Naadaa - yunaadii. Ayo.. ditashrif bareng2. 

نادى - ينادي

Tashrif Istilahi نادى - ينادى | fi'il naqish wazan فاعل






fa huwa munadin  مناد
wa dzaka munadan (yang dipanggil) منادى


المنادى
Munada itu secara arti diterjemahkan dengan yang dipanggil. Dari sisi nahwu diterjemahkan dengan isim yang dibaca nashob yang jatuh setelah huruf nida. 

Yaa Rosulallohi

يا رسل الله

  • rasulallohi ini munada. 
  • yaa itu namanya huruf nida (harfun nida). 

Munada adalah isim yang dibaca nashob yang jatuh setelah huruf nida. Sebenarnya kalau kita mau membahas konsep tertentu dalam bab nahwu, apa itu definisinya (ta'rif), kalau seandainya ada aqsamnya seperti apa? pembagianya seperti apa?  setelah itu amtsilahnya (contoh2nya seperti apa) seperti apa? 


Ta'rif
Munada itu merupakan isim maf'ul, boleh dianggap sebagai mashdar. Kalau kita ngomong dalam tashrifan kan begitu

fahuwa munadi - Isim Fail
wa dzaaka munada - Isim Maf'ul

Isim maf'ul yang dipanggil artinya. Secara istilah diterjemahkan dengan isim yang dibaca nashob yang jatuh setelah huruf nida. 

يا رسول الله
yaa adalah huruf nida'
rosulallohi ini adalah munada

Kenapa kok munada ini kok termasuk dalam kategori manshubatul asma (isim2 yang dibaca nashob? ) karena sebenarnya yaa ini pengganti dari fi'il yang kalau seandainya dimunculkan, itu adalah berbunyi

أدعو - manggil, sopo? insun. Berarti munada ini substansinya adalah maf'ul bih. 
يا رسول الله 
أدعو رسول الله

yaa Rosulallohi, wahai Rosulalloh. Itu sama dengan 
ad'uu Rosulallohi, manggil sopo? ingsun, 

ad'uu ( memanggil siapa saya, )
Rosulallohi (akan Rosulalloh)

Berarti apa? munada itu substansinya, ketika ya itu, ketika huruf nida itu pengganti dari ad'u... maka munada itu sebenarnya dalah maf'ul bih. Sehingga menjadi wajar, apabila dia termasuk dalam kategori manshubatul asma'. Jadi munada itu adalah isim  yang dibaca nashob, yang jatuh setelah huruf nida. Menurut analisis ulama, huruf nida itu merupakan pengganti dari lafadz ad'uu.. dari fi'il ad'u. Menjadi masuk akal kalau seandainya ya itu ditafsiri diterjemah dengan ad'u.. Munada itu dianggap sebagai manshubatul asma'. Karena apa? substansinya dia adalah maf'ul bih. Jadi yaa rosulallohi itu sama persis dengan ad'uu rosulalloh. Lalu pembagianya seperti apa?

Pembagian Munada

  • ada yang disebut sebagai mufrod alam/ mufrod ma'rifah
  • nakiroh maqsudah
  • nakiroh ghoiru maqsudah
  • munada mudhof
  • munada syabihun bil mudhof

Munada itu tidak satu macam, munada itu banyak macamnya. Pembagian ini, disamping mengandung pengertian tertentu, juga berhukum i'rob yang berbeda. Maksudnya berbeda itu adalah...


  • ada yang disebut sebagai mufrod alam/ mufrod ma'rifah
  • nakiroh maqsudah
mabniyyun 'ala maa yurfa'u bihi,

sedangkan kalau di bawah ini adalah mu'rob. 

  • nakiroh ghoiru maqsudah
  • munada mudhof
  • munada syabihun bil mudhof
Bahwa munada termasuk manshubatul asma? iya.... tapi dalam tataran selanjutnya, ada yang nashobnya itu ada tandanya, ada yang tidak ada tandanya. Kapan ada tandanya? kapan tidak ada tandanya? itu terkait dengan pembagian dari munada itu sendiri. Ketika mufrod ma'rifah kategorinya, ketika nakiroh maqsudah kategorinya, maka dia tidak memiliki tanda i'rob. 

يا محمدُ
ya adalah merupakan huruf nida. 
muhammadu - jatuh setelah huruf nida, namanya munada. Dalam kategori manshubatul asma. Tapi kenapa ustadz? ini kok kemudian di dhommah? Nah itu yang saya maksud, di dhommah ini, bukan ya muhammada. Kenapa ini di dhommah? o ini karena dari pembagian munada itu, kalau seandainya masuk dalam kategori mufrod ma'rifah, kalau masuk dalam kategori mufrod maqsudah, maka hukum i'robnya itu adalah mabniyyun ala maa yurfa'u bihi. 

Ketika dia termasuk dalam nakiroh ghoiru maqsudah, ketika termasuk dalam munada mudhof, ketika termasuk dalam munada syabihun bil mudhof, maka dia masuk dalam kategori mu'rob. Penting untuk diingat, bahwa harokat itu ada dua, ada yang disebut sebagai harokatul bina, ada yang disebut dalam harokatul i'rob. Itu penting, dalam konteks ini masuk. Apa maksudnya harokatul bina itu? harokatul bina itu adalah harokat mabni, harokat yang tidak menunjukkan kedudukan i'rob. Dhommah biasanya menunjukkan i'rob rofa', akan tetapi kalau disini berhukum mabni, mabni disini 

يا محمدُ

ini tidak sedang menunjukkan i'rob rofa'. Jadi tetep, frame nya, rangkanya itu harus dibalut oleh itu. Karena ini termasuk dalam kategori mabni, maka harokat disitu masuk dalam harokatul bina. 

ُيا رجل
Dhommah disini bukan menunjukkan dia itu dibaca rofa', bukan... tetep hukumnya, ini masuk dalam kategori manshubatul asma', masuk dalam kategori munada. Dia didhommah karena dia masuk dalam kategori munada mufrod ma'rifah, dia masuk dalam kategori nakiroh maqsudah.  (maka dia berhukum mabni). Harokat yang ada disitu tidak mencerminkan kedudukan i'rob. Harokat yang ada disitu adalah harokatul bina. Karena disini dihukumi mabniyyun ala maa yurfa'u bihi. 

يَا رَسُوْلَ اللهِ
Kalau seandainya disini kan kelihatan banget, fathah disini itu menunjukkan harokatul i'rob, fathah disini menunjukkan dibaca nashob. Berhukum mu'rob, karena masuk dalam kategori nakiroh ghoiru maqsudah, karena masuk dalam kategori munada mudhof, masuk dalam kategori munada syabihun bil mudhof. Saya kepingin menegaskan disini, harokat itu ada yang disebut sebagai harokatul i'rob, ada yang disebut sebagai harokatul bina'. Kalau harokatul i'rob itu harokat yang menunjukkan kedudukan i'rob tertentu. 
  • Kalau dhommah menunjukkan rofa'
  • kalau fathah menunjukkan nashob
  • kalau kasroh menunjukkan jar.
Apabila yang namanya 
dhommah tidak menunjukkan rofa'
fathah tidak menunjukkan nashob
kasroh tidak menunjukkan jar

maka yang ada disitu bukan merupakan harokatul i'rob, tapi harokatul bina'. Nah pembagian munada itu penting untuk diperhatikan. Sehingga jangan sampai kita  mengatakan bahwa yang namanya dhommah itu mesti menunjukkan? rofa'. Karena bisa jadi dhommah itu harokatul bina. Penting itu untuk diperhatikan. 

Jadi ada ta'rif munada: isim yang dibaca nashob, yang jatuh setelah huruf nida. Bagianya apa saja itu? ada yang disebut sebagai? 

  • mufrod alam/ mufrod ma'rifah
  • nakiroh maqsudah
  • nakiroh ghoiru maqsudah
  • munada mudhof
  • munada syabihun bil mudhof

Kalau munadanya dari isim alam (nama) atau secara umum munadanya terbuat dari isim ma'rifat, apakah itu menggunakan isim alam, apakah itu dengan menggunakan AL, itu namanya munadanya mu'rob ma'rifah. Ada juga nakiroh maqsudah, ada juga nakiroh ghoiru maqsudah. Ini yang membedakan nanti adalah kaidah nahwu, antara ya rojulu dan ya rojulan

ُيا رجل
يا رجلًا

Kalau saya tidak kenal sama seseorang, tapi ada orangnya. Kalau ya rojulu, itu berarti tertuju pada orang tertentu yang ada orangnya.  Untuk membedakan secara ekstrim, bayangkan dengan orang yang minta tolong, apakah disitu ada orang atau tidak, itu tidak jelas. Yaa rojulan, itu berarti gak jelas, orangnya yang mana, apa ada orang atau tidak, itu gak jelas. Itu perbedaan secara ekstrim, itu terjadi seperti itu. Darimana ini maqsudah, ditujukan pada orang tertentu? ghoiru maqsudah, tidak ditujukan pada orang tertentu? padahal ini sama2 nakiroh. 

Yaitu dari hukum i'robnya, kalau seandainya dia dimabnikan ya rojulu, berarti dia kategorinya sudah masuk dengan yang setingkat dengan isim ma'rifah. Karena sudah maqsudah. Buktinya sudah maqsudah apa? tidak ditanwin. Dia dimabnikan alad dhommi, karena sejajar dengan munada mufrod ma'rifah. Sama2 nakirohnya, akan tetapi kita bisa menentukan murodnya, bisa menentukan maksudnya, dengan cara bagaimana? ini dihukumi mabni atau mu'rob. Kalau yaa rojulu, berarti dihukumi mabni dia, berarti apa? nakiroh maqsudah, ditujukan pada orang tertentu. Kalau ya rojulan, berarti disitu nakiroh yang ghoiru maqsudah, tidak ditujukan pada orang tertentu. Gambaran kita adalah sama dengan orang yang sedang minta tolong misalnya. Apakah disitu ada orang atau tidak, tidak jelas. Tidak ditunjukkan pada orang tertentu. 

Apa yang dimaksud dengan munada mudhof itu? munada mudhof itu adalah munada yang terdiri dari susunan idhofah. 

يَا رَسُوْلَ اللهِ

Oleh sebab itu, harokat yang ada disini harokatul i'rob, bukan harokatul bina. Apa yang dimaksud dengan syabihun bil mudhof, syabihun bil mudhof itu maksudnya diserupakan dengan mudhof. Maksudnya apa itu ustadz? Dua susunan kata, dimana antara satu dengan yang lain tidak memungkinkan untuk dipisahkan. Sama dengan tidak bisa dipisahkanya mudhof dan mudhofun ilaihi. 

يَا طالبًا علمًا

syabihun bil mudhof, diserupakan dengan mudhof. Jadi kalau syabihun bil mudhof tidak mungkin satu kata, mesti lebih dari satu kata. Syabihun bil mudhof itu diserupakan dengan mudhof, sebagaimana mudhof mudhofun ilaihi tidak bisa diserupakan, pun demikian syabihun bil mudhof, itu juga tidak bisa dipisahkan. Kenapa ilman itu kok kemudian dibaca ilman. Sama persis dengan Yaa Rosulallohi, kenapa Alloh disitu kok dibaca kasroh, karena ada Rosula sebagai mudhof, dan Alloh sebagai mudhofun ilaihi. Ada tholiban yang sedang beramal sebagaimana fi'ilnya.  Karena kena kaidah? bareng2. 

وَوَلِيَ اسْتِفْهَامًا أَوْ حَرْفَ نِدَا
أَوْ نَفْيًا أَوْ جَاصِفَةً أَوْ مُسْنَادَا

Pola hubungan yang saling mempengaruhi antara mudhof dan mudhofun ilaihi. Sama dengan yang syabihun bil mudhof itu. Dimana antara satu dengan yang lain saling terkait, tidak bisa dipisahkan. Sama dengan mudhof dan mudhofun ilaihi yang tidak mungkin untuk kemudian dipisahkan. Jadi definisi dari munada itu adalah isim yang dibaca nashob setelah huruf nida. Macamnya huruf nida itu ada banyak, seperti yang dicontohkan pada nadzom imrithy,

وَ نَادِ مَنْ تَدْعُوْ بِياَ أَوْ بِأَيَا
أَوْ هَمْزَةٍ أَوْ أَيْ وَإنْ شِئْتَ هَيَا

Ada kajian yang lebih serius, yang penting untuk menjadi model analisis kita. Kenapa ustadz? kok disebut sebagai mabniyyun ala maa yurfa'u bihi.  Kalau dalam bab la allati li nafyil jinsi disebutkan mabniyyun ala maa yunshobu bihi. Ini saya tegaskan, sebuah isim itu, tidak ditanwin, alasanya jelas. 
  • karena ada ALnya
  • karena menjadi Mudhof
  • karena dia itu isim ghoiru munshorif
dalam perkembangan selanjutnya, ada isim tidak ada AL nya, sedang tidak dimudhofkan, juga bukan kategori isim ghoiru munshorif, ternyata tidak ditanwin. Dalam konsep apa itu? Dalam konsep munada dan juga dalam konsel laa allati li nafyil jinsi. 

لا رجل في الدار
padahal kalau rojulun ini sedang tidak ada pada isim laa allati li nafyil jinsi, jelas ditanwin. Misal:

جاء رجل
(jelas ditanwin)

Inilah yang saya katakan, dalam ilmu nahwu itu, kalau seandainya sudah tidak ada alasan yang bisa dimajukan, yang rasional, maka alasan terakhir yang bisa dijadikan alasan adalah karena dia mabni. Jadi kalau mabni itu tidak boleh ditanwin lagi. Ini tidak rasional, ya muhammadu, muhammad itu ketika tidak jadi munada, harus ditanwin. Muhammadu itu bukan merupakan isim ghoiru munshorif, tidak ada Al nya, tidak sedang dimudhofkan. Tapi realitanya tidak ditanwin, kenapa? karena didahului huruf nida. Gak ada alasan itu. Alasan yang diluar kewajaran. Maka alasan yang dimajukan para ulama, ini mabni. Jadi mabni itu adalah alasan ketika kita tidak bisa merasionalisasikan alasan lebih lanjut. Itu alasanya mabni. Sudah kalau mabni tidak boleh ada pertanyaan lagi. Jadi kalau sampeyan ditakoni, kok misalkan gak iso njawab, ngomongo mabni, karena wis gak oleh takon maneh. Bahwa kenapa disini kok disebutkan mabni? karena disini terjadi keanehan. Karena muhammadun awalnya menjadi isim munshorif, padahal tidak ada alasanya untuk tidak ditanwin. Jadi karena tidak ditanwinya muhammadun pada lafadz yaa muhammadu, karena gak ada alasan itulah yang dimajukan adalah konsep mabniyyun. Pun demikian dalam konteks laa rojula fiddari. 

Nanti tentang konsep lainya, tentang huruf nida, itu perlu dilanjutkan dipelajari di buku2 metode al bidayah. Itu semuanya ada. Atau kalian bisa lihat lagi ditulisan yang lain tentang munada, disini. Misal ketika munada itu ada Al nya, maka harus ada ayyun mushlatun dan ha tanbih. Mungkin itu, yang saya sampaikan. Karena keterbatasan waktu, kurang lebihnya mohon maaf, 
wa billahit taufiq wal  hidayah, 
wassalamu'alaikum warohmatullohi 
wabarokatuh. 

 


Comments